Mualem dan TA Khalid Mampu Membebaskan Aceh Dari Ketergantungan Ekonomi Kartel Medan

AcehWatch | Saat ini Aceh belum bisa lepas ketergantungannya pada provinsi tetangga Sumatera Utara (Sumut), Medan. Sudah enam belas kali pergantian gubernur definitif di Aceh mulai dari Teuku Daud Syah (1947) hingga Zaini Abdullah (sejak 2012-2017), namun persoalan yang satu ini belum juga mampu di atasi. Malahan kini ketergantungan Aceh pada Medan semakin menjadi-jadi.

Hampir seluruh sektor penting ekonomi Aceh disokong Medan. Tengok saja mulai dari kebutuhan pangan seperti: telur ayam, minyak goreng serta sayur meliputi wortel, tomat, bawang, kol, brokoli dan kentang dipasok dari sana. Buah-buahan Medan juga kini membanjiri tanah rencong, semisal: jeruk, nenas, markisa dan rambutan.

Pemandangan menarik lainnya adalah disepanjang ruas jalan di Banda Aceh (sebelum ramadhan) juga dihiasi dengan para penjual buah jambu klutuk yang berderetan disepanjang jalan. Buah-buahan ini ternyata juga dipasok dari Medan.

Belum lagi bahan bangunan yang dijual di toko-toko di Aceh semuanya barang Medan, seperti: besi, seng, tripleks, paku, kawat, cat dan barang sejenisnya. Di bulan ramadhan seperti sekarang ini, segala jenis sirup juga membanjiri pertokoan Aceh, yang kesemua itu sebagian besar diproduksi di Medan. Dan ini logis saja sebagaimana catatan Dinas Koperasi dan Perdagangan Aceh bahwa jumlah arus barang masuk dari Medan ke Aceh tiap tahun rata-rata mencapai angka 871 juta ton.

Jadi dengan demikian nyaris segala sendi kehidupan ekonomi kita bergantung pada Medan. Aceh praktis belum mandiri sama sekali. Secara ekonomi ini sebenarnya sangat berbahaya. Andaikata Medan melakukan embargo kepada Aceh, maka sebanyak 5,2 juta penduduk Aceh akan kelaparan dan tidak bisa membangun. Tetapi untung saja Medan masih satu negera dengan Aceh, dalam bingkai NKRI.

Fenomena ini sudah berlangsung sejak lama. Belum ada satu kepala dearahpun di Aceh yang berhasil memutus rantai ketergantungan ini. Sepertinya cukong-cukong bisnis di Medan memang sengaja mempertahankan ketergantungan ini. Yang aneh lagi komoditi Aceh yang diekspor ke luar negeri juga wajib via pelabuhan Medan. Persis bak kata pepatah: ”Sapi punya susu, kambing punya nama”.

Berbicara ketergantungan ini, secara kasat mata dan mencolok adalah tentang telur ayam. Ini sangat mencengangkan kita semua. Uang masyarakat Aceh yang mengalir ke Medan untuk belanja telur ini tiap hari mencapai angka Rp1,1 milyar. Untuk satu bulan berarti sejumlah Rp33 milyar atau setara Rp396 milyar setahun uang Aceh mengalir ke Medan hanya untuk belanja telur saja. Dikala ramadhan seperti sekarang ini angka perdagangan telur Medan ke Aceh bisa menembus angka Rp1,5 milyar per hari atau Rp45 milyar sebulan. Itu belum lagi untuk belanja keperluan lainnya. Untuk segala jenis item belanja, diperkirakan uang masyarakat Aceh cukup deras mengalir ke sana, yaitu paling sedikit mencapai angka Rp3 triliun per tahun.

Melihat kondisi di atas, sudah waktunya Aceh memiliki Pemimpin yang memiliki karakter Aceh asli, sosok pemimpin seperti itu ada pada figur Muzakir Manaf dan TA Khalid. Kedua Tokoh Aceh tersebut dianggap mampu membebaskan ketergantungan Aceh terhadap Medan.

Dengan kelebihan masing-masing yang dimilikinya, mereka bisa memadukan dan berbagi peran. Mualem diyakini mampu membangun kondisi nyaman bagi investor, dengan segala pengaruh dan kharisma yang dimiliki beliau, Mualem dianggap mampu membuat situasi politik dan keamanan menjadi stabil, beliau juga sosok berani yang melawan intevensi pihak luar.

Sementara TA Khalid dengan pengalamannya sebagai mantan Wakil Ketua Gapensi tentu memiliki strategi yang kuat dalam membangun perekonomian Aceh,  TA Khalid dianggap mampu mendatangkan investor dari luar Aceh. Hal tersebut dikarenakan TA Khalid punya pengalaman yang sukses sebagai seorang pengusaha dan juga memiliki jaringan yang kuat di tingkat Nasional. TA Khalid dianggap dekat dengan para pengusaha sukses, sehingga diyakini mampu menghadirkan proyek-proyek infrastruktur besar di Aceh.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*