Dulu Menyet-Nyet, Kini Mereka Diam (Pecahkan Rekor PON, Cara Mualem Bungkam Lawan Politiknya)

Aceh Watch | Di awal permulaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016 Jawa Barat dimulai, kontingen Aceh masih kesulitan meraih medali, kesedihan semakin bertambah ketika salah seorang putri kelahiran Aceh yang membela kontingen olah raga Jabar berhasil merebut medali untuk propinsi tuan rumah. Namun ada saja orang yang memanfaatkan moment tidak menyenangkan itu untuk kepentingan politik.Banyak lawan politik Mualem memanfaatkan moment tersebut untuk menyerang calon Gubernur Aceh itu. Pasalnya Mualem adalah ketua KONI Aceh. Para lawan politik tiba-tiba seakan sangat peduli dengan olah raga Aceh, mereka sepertinya sangat sedih, padahal jika kita berpikir secara jernih, mereka yang menyerang Mualem pun tak pernah melakukan apapun untuk kemajuan olah raga Aceh. Mereka hanya berkoar-koarlayaknya komentator dan selebritis di media infotainment.

Mualem tidak pernah membalas permainan kotor para lawan politik yang mempolitisasi olah raga, ia hanya mengambil sikap “keep Calm” dan terus bekerja dan bekerja lebih keras lagi. Sehingga pada akhirnya berhasil membawa harum nama Aceh.

“Apa yang kau tanam itulah yang kau panen” pepatah itu sangat cocok ditujukan kepada Mualem. Sebagai Ketua KONI Aceh ia telah berhasil membuktikan kerja nyatanya, rekor 27 tahun Aceh di ajang Pekan Olah Raga Nasional berhasil dipecahkannya.Sejarah baru tercipta bagi Aceh.

Aceh sudah meraih 8 medali emas, 7 perak, dan 10 perunggu. Apa yang dilakukan oleh para atlet Aceh sudah melewati perolehan pada PON XII/1989 di Jakarta yang berlangsung 18-28 Oktober. Saat itu Aceh meraih 7 medali emas.

Mualem berhasil membungkam para lawan politiknya dengan hasil kerja nyata bukan dengan meu nyet-nyet, dan mereka pun kini terdiam dan kembali pada habitat aslinya yang tak peduli dengan olah raga Aceh, bahkan tidak ada rasa apresiasi dan peduli mereka kepada anak-anak Aceh yang telah berhasil itu, padahal sebelumnya mereka seakan-akan sangat peduli dengan olah raga Aceh.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*