Dampak Kesehatan Rokok Eletronik VS Rokok Konvensional

Aceh Watch| “Vaping Lebih Berbahaya dari Smoking.” Begitu sebuah judul berita yang muncul dan kemudian beredar luas di masyarakat. Dampaknya, bisnis vapor yang sedang naik daun pun harus terjun bebas. Terlepas dari dampak pemberitaan, bagaimana sebenarnya dampak kesehatan akibat vaping?

Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP (Spesial Paru) dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), mengatakan bahwa WHO menggolongkan rokok elektronik atau vapor ke dalam  Electronic Delivery System (EDS), yakni alat yang menggunakan listrik dari tenaga baterai untuk memberikan nikotin dalam bentuk uap.

Generasi pertama rokok elektronik memang berbentuk batang, kemudian berlanjut berbentuk cerutu. Kedua generasi awal vapor ini tak bisa diisi ulang. Generasi ketiga dan keempat berbentuk cairan. Hal yang membedakan hanyalah ukuran yang kini jauh lebih besar.

Kandungan di dalam vapor tentu berbeda dengan rokok konvensional. Jika rokok konvensional menggunakan tembakau, maka selain mengandung nikotin juga ada kandungan TAR dan gas CO sebagai hasil pembakarannya. Sementara rokok elektrik, mulai dari generasi 1-4, tidak mengandung CO karena mekanismenya tidak dibakar tapi diuapkan sebagai hasil cairan yang dipanaskan secara elektrik.

“Rokok konvensional selain mengandung nikotin juga mengandung TAR. Juga mengandung 40-60 bahan yang disebut karsinogen,” kata dr. Agus, Kamis, (29/9/2016).

Walaupun tidak mengandung TAR, tapi baik rokok konvensional maupun vapor sama-sama mengandung nikotin, kecuali pada jenis vapor yang memang dibandrol “nol nikotin”. Vapor juga mengandung bahan-bahan yang disebut bersifat karsinogen atau pemicu kanker. Contohnya polyethyl glykol dan beberapa nitrosamin yang terkandung dalam cairan tersebut. Dari mekanisme penguapan elektrikal, juga mengeluarkan produk formaldehid maupun aldehid lainnya yang juga bersifat karsinogen.

Namun, kadar karsinogen rokok konvensional bakar jauh lebih banyak dibanding vapor. Walaupun perlu digarisbawahi, International Agency Risk Cancer (IARC) menyatakan bahwa bahan karsinogen sekecil apapun, jika digunakan terus-menerus bisa menginduksi kanker.

Menurut dr Agus, tidak ada batas aman dalam karsinogen. Semuanya berbahaya, mau kecil mau besar. Meski memang, data karsinogennya lebih banyak terdapat pada rokok konvensional.

“Kanker bisa menjangkit para pengguna rokok konvensional dan vapor. Tapi penelitian di luar negeri memang belum ada yang menyatakan banyaknya atau berapa persen orang yang memakai vaping terkena kanker. Makanya kita warning dari awal, dikhawatirkan fenomena ini tahu-tahu jadi penyakit,” ujarnya.

Hal lain yang sama, asap yang dihasilkan rokok konvensional maupun vapor yang berbentuk uap, bersifat iritatif. Partikelnya tetap bisa masuk ke saluran paling tepi dan berpotensi menyebabkan peradangan. Jadi dapat menyebabkan peradangan hipersensitif, batuk-batuk, sesak napas dan terjadi penurunan fungsi paru secara cepat. Bahkan jika memasukkan kadar nikotin yang terlalu tinggi ke liquid vapor, berpotensi menimbulkan keracunan nikotin, mual dan sakit kepala.

Menurut dr Agus, pada awalnya rokok elektronik diciptakan sebagai pengganti terapi nikotin rokok. Meski yang harus dicatat, terapi dilakukan dengan pengawasan dokter, sebab dibatasi dan diatur dosisnya. Sebab target menggunakan vapor sebagai terapi, nantinya diharapkan seseorang dapat berhenti dari rokok konvensional, sekaligus berhenti vaping. Vapor menjadi alat bantu untuk berhenti merokok.

“Di luar negeri ada beberapa negara yang pakai program seperti ini hingga orangnya bisa berhenti merokok. Ya pakailah untuk protokol berhenti rokok, tapi ini tidak direkomendasikan WHO karena ada karsinogennya,” kata Agus.

Semiliar Korban Rokok

Badan kesehatan dunia atau WHO, menyebut terdapat tujuh juta perokok konvensional di wilayah Eropa. WHO pun mengestimasi, bakal ada semiliar orang yang akan meninggal akibat penyakit yang disebabkan rokok konvensional dalam 100 tahun mendatang.

Pada konferensi di London, Dr Konstantinos Farsalinos MD dari University Hospital Gathuisberg Belgia, menyimpulkan bahwa risiko yang terdapat pada rokok elektronik sangat minim. Dari hasil penelitiannya, diperkirakan bahaya rokok konvensional yang selama ini dipublikasikan hanya 1/1000 dari bahaya yang sebenarnya.

Penelitian Farsalinos menyebut bahwa komponen isi ulang rokok elektronik adalah air, propylene glycol (PG), vegetable glycerin (VG), perasa dan nikotin. Zat PG, VG dan perasa sebenarnya telah digunakan selama puluhan tahun di dalam berbagai macam makanan dan obat-obatan. Dan bahkan telah diklasifikasikan Food and Drug Administration (FDA) AS sebagai bahan yang aman untuk dikonsumsi. Sebab dalam keseharian, kita mengkonsumsinya dari kue, pasta gigi, sampai obat-obatan.

Tim Farsalinos merekomendasikan para perokok yang tidak dapat berhenti merokok beralih kepada rokok elektronik. Sebab berdasarkan hasil penelitian mereka, rokok elektronik memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dibandingkan alat terapi pengganti nikotin lain, seperti koyo bernikotin, permen bernikotin, atau semprotan bernikotin.

Rokok elektronik juga dapat memberikan tiruan perilaku perokok, sehingga para pecandu rokok tembakau tidak harus meninggalkan kebiasaan hidup mereka, seperti ritual berkumpul bersama untuk menghisap dan mengeluarkan asap atau uap.

“Keberhasilan pengganti nikotin lainnya hanya 20 persen, sedang penelitian ini mengemukakan rokok elektrik membuahkan keberhasilan sebesar 80 persen,” kata Farsalinos.

Sebaik-baik vapor dibanding rokok konvensional, tentulah tetap lebih aman dengan menghindarinya. Seperti yang disampaikan oleh dr Agus, bahan berbahaya biar sedikit akan tetap membahayakan. Tapi tentu semua pilihan kembali kepada individu masing-masing.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*