BERITA

Mulut Besar Duterte dan Masa Depan Militer Filipina

Aceh Watch | Bukan Rodrigo Duterte jika mulutnya tidak bisa dijaga. Kali ini dia bilang agar Obama “go to hell” dan akan membeli senjata kepada Rusia dan Cina. Apakah Duterte sungguh-sungguh akan berpaling pada dua rival AS?

Awal September lalu, media merekam celotehan Duterte yang menyebut Obama sebagai anak pelacur. Juga buntut ucapan itu, di antaranya pembatalan pertemuan Obama dengan Presiden Filipina ini di sela KTT ASEAN. Si Mulut Besar pun meminta maaf.

Tapi apakah kasus itu membuat Duterte menjaga ucapan? Tentu saja tidak. Rupanya berbicara asal dan sesukanya adalah hobi Duterte. Pada 21 September lalu, Duterte mengacungkan jari tengah dan mengucapkan persetan saat ditanya wartawan soal tekanan Uni Eropa atas pembunuhan para bandar narkoba di Filipina.

Selasa kemarin, komentar kontroversial lain dia ucapkan. Lagi-lagi mengarah pada Obama. “Alih-alih membantu kami, Departemen Luar Negeri AS malah mengkritik kami. Anda bisa pergi ke neraka, Obama, Anda bisa pergi ke neraka,” katanya seperti dikutip Philippine Daily Inquirer.

Ucapan keras juga mengarah pada Uni Eropa. “Uni Eropa, kalian lebih baik melakukan penyucian diri. Neraka sudah penuh. Kenapa saya harus takut kepada kalian?”

Duterte mengatakan Amerika Serikat seharusnya mendukung Filipina dalam memerangi masalah kronis negaranya terkait peredaran obat-obatan terlarang. Ia kesal AS dan Uni Eropa malah mengkritik langkah pemerintahannya yang membunuhi bandar-bandar narkoba.

Juru bicara Gedung Putih Josh Earnest mengabaikan serangan Duterte itu. Komentar-komentar Duterte, kata Earnest, tidak akan membuat hubungan hangat dan pertemanan Filipina-AS menjadi renggang. Apalagi Filipina dikenal sebagai sekutu terdekat AS di Asia Tenggara. Meski begitu Gedung Putih tetap tegas mengkritik perang Duterte dengan narkoba yang telah menelan 3.000 korban jiwa.

Meski akan tetap menjaga hubungan erat yang sudah berjalan selama 70 tahun, Earnest menegaskan bahwa pemerintah dan Amerika Serikat tidak akan ragu menyuarakan keprihatinan terhadap pembunuhan semena-mena. Itu dikatakannya dalam jumpa pers seperti diwartakan Politico.

Dalam setiap ancaman Duterte kepada AS dan Uni Eropa, kakek berumur 71 tahun ini selalu menyebut-nyebut Cina dan Rusia, dua rival AS. Dia mungkin berharap trik itu bisa membungkam kecerewetan AS soal pelanggaran hak asasi manusia.

Selasa lalu, dia mengatakan di saat AS dan Uni Eropa mengecamnya, dia mendapat dukungan penuh Cina dan Rusia. Duterte juga bilang akan meninjau kembali Kesepakatan Peningkatan Kerja Sama Pertahanan AS-Filipina. Pada pertengahan September, dia pun sempat mengancam akan memulangkan seluruh tentara AS yang beroperasi di Filipina, dan mengatakan kehadiran mereka tidak berguna dalam pemberantasan kelompok pemberontak di Filipina Selatan.

Dalam repetan “Obama can go to hell” ini, Duterte mengancam akan membeli senjata dari Cina atau Rusia. Ia kesal dengan kebijakan AS yang juga enggan menjual peluru kendali dan persenjataan lainnya pada Filipina.

“Kalau Anda tidak mau menjual senjata, saya akan berpaling ke Rusia. Saya sudah mengirim beberapa jenderal ke Rusia, dan Rusia mengatakan tidak usah khawatir, kami punya semua yang kalian perlukan dan kami akan memberikannya kepada kalian.”

“Dan Cina, mereka mengatakan datang saja dan tanda tangan, semuanya akan dikirim.”

“Walaupun ini mungkin terdengar kotor bagi Anda, saya memiliki tugas mulia untuk menjaga integritas republik ini dan kesehatan rakyat,” ujar Duterte.

Gertakan Duterte soal senjata ini cukup masuk akal. Filipina saat ini sedang menggebu-gebu memodernisasi perangkat alutsista mereka. Data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mencatat dalam lima tahun terakhir rerata budget militer Filipina berkisar 12 persen—tertinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lain.

Persentase pertambahan anggaran dari 2013 ke 2014 bahkan mencapai 20 persen, peningkatan ini memang tak lepas dari tensi Laut China Selatan yang semakin meningkat sejak 2008-2009. Pada kurun 2000-2010, rerata pertumbuhan anggaran militer Filipina amatlah kecil, hanya 5 persen, terkecil ketiga setelah Laos (1 persen) dan Brunei Darrussalam (4 persen).

Meski besar secara presentase, nilai nominal anggaran militer Filipina per 2015 lalu hanya mencapai $3,87 miliar. Angka ini tentu saja kalah ketimbang Thailand ($5,3 miliar), Singapura ($9,1 miliar), Indonesia ($7,6 miliar), Malaysia ($4,5 miliar), atau Vietnam ($4,5 miliar).

Dana untuk alutsista itu hampir 75 persennya dibelikan untuk membeli senjata dari AS. Sisanya barulah Jerman, Italia, Singapura, Thailand, Inggris, Turkey, Korea Selatan, Polandia, dan Indonesia. Artinya, sebelumnya Filipina tak membeli senjata dari Cina dan Rusia.

Secara harga, alutsita dari Rusia lebih murah ketimbang AS, meski tidak kalah ualitasnya. Dalam soal kekuatan temput udara misalnya, harga Sukhoi tipe SU-35 dijual dengan kisaran harga $70 juta hingga $75 juta. Jauh lebih murah dibanding F-35A milik AS yang bisa mencapai $148 juta atau dua kali lipat dari SU-35.

Dalam konteks pertahanan di laut, Filipina pun cenderung menunggu bantuan hibah AS ketimbang membeli langsung. Jikapun menganggarkan pembelian, negara kepulauan ini kerap berbelanja ke negara-negara lain yang biayanya lebih murah, seperti pemesanan dua kapal landing platform docks ke PT PAL Indonesia.

Awal bulan lalu, Duterte sempat mengatakan Cina dan Rusia akan memberikan pinjaman ringan jangka panjang hingga 2025 nanti, jika Filipina membutuhkan senjata. Obrolan antara Duterte dengan Rusia dan Cina itu tidak main-main.

Duta Besar Filipina di Rusia Carlos Sorreta mengumumkan telah bertemu dengan para pejabat Rusia. Di sisi lain, seminggu setelah ditetapkan menang Pilpres Mei lalu, Duterte juga melakukan pertemuan terutup dengan Duta Besar Rusia di Filipina, Igor Khovaev.

Selain soal peralatan militer dan teknologi, Rusia juga bersedia memberikan pelatihan, layanan purna jual dan pemeliharaan, transfer teknologi, investasi dalam produksi militer dalam negeri, pelayanan, juga cara pembayaran yang amat ringan.

Dengan mengalihkan haluan ke Rusia, lantas bagaimana dengan status Filipina dalam sengketa Laut Cina Selatan? Rusia secara terang-terangan mendukung hegemoni Cina di area itu. Jika Filipina berbelok ke kedua negara itu, AS akan mengalami situasi sulit. Sebab Filipina selama ini adalah sekutu terkuat AS di Laut Cina Selatan.

Hubungan China dan Filipina amatlah unik. Keduanya bersitegang di laut, namun mesra di darat. Bergabungnya Filipina di Asia Infrastructure Investment Bank (AIIB) pada Januari lalu membikin hubungan ekonomi diantaranya semakin erat.

Lembaga keuangan baru yang berbasis di Beijing ini memiliki rencana jangka panjang untuk membantu pembangunan di Filipina. Sampai 2020 nanti, Filipina setidaknya masih membutuhkan membutuhkan $127 miliar untuk pembangunan infrastruktur.

Kerjasama ini diteken presiden Filipina terdahulu, Benigno Aquino Jr. Banyak pengamat menduga Duterte tidak akan melanjutkannya, namun faktanya sekarang Duterte terus menyerang AS. Mungkinkah Filipina merapat ke Cina dan merelakan hak mereka di Laut China Selatan?

“Kurasa tidak,” kata diplomat senior Filipina Lauro Baja kepada This Week in Asia. Menurut Baja, Duterte semestinya paham “di bagian roti sebelah mana yang ada menteganya.”

Bagi Baja, omongan-omongan Duterte soal kemungkinan mendekatnya Filipina ke Rusia dan Cina hanyalah caranya menggertak AS. Ia juga mengira kemungkinan militer akan membujuknya agar menahan diri dari gerakan semacam ini “karena militer Filipina sangat bergantung pada AS soal peralatan dan bantuan militer. Mereka telah berjejaring dengan AS, hubungan yang tak dimilikinya dengan Cina maupun Rusia.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *