BERITA

Siapakah Ahok?

Aceh Watch| Siapakah Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok? Pertanyaan tersebut sekilas gampang dijawab. Tapi jika melihat timeline sepak terjang yang menggambarkan betapa digdayanya tokoh satu ini, jawabannya akan menyisakan kabut pekat yang menyelimuti misteri di belakangnya: bukan sekadar Ahok yang selama ini dipahami sekadar politikus kontroversial keturunan Tionghoa.

Secara personal, Ahok tidak ada bedanya dengan warga negara Indonesia (WNI) lain. Dari sisi genealogis, dia kebetulan berdarah Tionghoa. Tapi dari sisi politik, dia mempunyai hak yang sama dengan WNI lainnya. Dia bahkan jauh lebih beruntung dari kebanyakan pribumi karena berkesempatan memiliki hak pilih langsung hingga sempat menjadi bupati Belitung Timur, anggota DPR RI, wakil gubernur, hingga kemudian menjadi gubernur di jantung Indonesia, DKI Jakarta.

Kesempatan yang diperoleh Ahok untuk berkiprah di langit perpolitikan Tanah Air secara konkret menunjukkan kian matangnya bangsa ini. Tidak ada pembedaan latar seseorang bagi siapa pun untuk bisa menjadi wakil rakyat dan memimpin rakyat atau pemimpin.

Tidak ada sentimen atau apalagi konflik berlatar SARA. Tidak ada pula ancaman perpecahan NKRI. Pancasila masih menjadi tempat berpijak dalam memandang kehidupan berbangsa dan bernegara. Sekali lagi, Ahok tidak ada bedanya dengan WNI lainnya.

Namun, kondisi ini belakangan mendapat ujian. Hal ini terkait dengan dinamika politik yang menyertai dengan dinamika hukum yang menyeret Ahok dalam kasus-kasus dugaan penistaan agama.

Kesan yang dimunculkan saat ini adalah Ahok menjadi korban SARA, diskriminasi, atau stigma lain yang bertentangan dengan kebinekaan yang berujung pada ancaman akan retaknya NKRI. Dengan alasan itu, sejumlah komponen bangsa merasa perlu menggelar pawai kebinekaan dan sebagainya.

Munculnya dinamika tersebut tentu tidak terlepas dari aksi yang digelar untuk kalangan Islam yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI). Namun, apakah serta-merta gerakan tersebut dapat disebut sebagai gerakan SARA, anti-NKRI, anti-Pancasila, atau bahkan sempat dikaitkan dengan gerakan makar?

Bila dirunut dari akar persoalan, aksi yang dilakukan GNPF-MUI tidak lebih dari unjuk rasa atau demonstrasi lainnya yang digelar kelompok masyarakat—dalam hal ini umat Islam—untuk menyampaikan aspirasinya di depan publik. Namanya unjuk rasa, sudah pasti diarahkan sebagai upaya politis untuk menekan pemegang otoritas politik atau hukum agar memenuhi aspirasi mereka, dalam hal ini proses hukum Ahok secara adil.

Keadilan menjadi kata kunci karena sejauh ini proses hukum yang berlangsung jauh panggang dari api. Persepsi tersebut terverifikasi secara sempurna saat Kejagung membiarkan Ahok melenggang kangkung tanpa ditahan. Padahal secara  normatif, seperti dalam kasus hukum lain yang dilimpahkan Polri, Kejagung selalu menahan mereka yang sudah menjadi tersangka atau berkas perkaranya sudah P-21. Dalam sejumlah kasus, tersangka bisa keluar atau menjadi tahanan kota setelah memberi jaminan. Namun, poinnya yang bersangkutan sudah terlebih dahulu ditahan.

Fakta-fakta tersaji tersebut sudah barang tentu menyinggung rasa keadilan masyarakat. Asas-asas hukum pidana seperti imparsial, fair and just, impersonal, equality before the low pun seolah tidak artinya. Padahal dalam kasus penistaan agama atau dugaan korupsi lain, aparat penegak hukum menampakkan kegarangan tanpa batas, termasuk terhadap gubernur, menteri atau tokoh lainnya. Kesan bahwa Ahok mendapat previlese pada akhirnya menjadi keniscayaan.

Dalam konteks inilah relevansi pertanyaan siapakah sejatinya Ahok? Siapakah Ahok hingga mampu membuat para penegak hukum seolah kehilangan taringnya? Siapakah Ahok, sehingga ketika dia menjalani proses hukum seolah-olah Indonesia di ambang pertarungan SARA dan perpecahan NKRI? Atau lebih jauh siapakah Ahok hingga dia bisa menempati puzzle penting dalam jejaring rezim saat ini, sehingga keberadaannya harus diamankan dengan berbagai cara?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *