Isi Surat Perjanjian Nektu-Polem Bocor Ke Publik, Akademisi : Itu Bukti Bahwa Yang Dijanjikan Nektu , Sudah Duluan Dikerjakan Oleh Rocky

Aceh Watch | Selembar surat perjanjian calon bupati Aceh Timur nomor urut 1, Ridwan Abu Bakar alias Nektu dengan sebuah kelompok yang menamai dirinya tim pemenangan Majelis Ulama’Alim Ulama Aceh Timur beredar di media sosial, Selasa, 31 januari 2017.

Dalam surat yang ditanda tangani oleh Ridwan Abu Bakar dan Abi Jafaruddin Husen tersebut, cabup Aceh Timur jalur independen tersebut dijanjikan oleh Majelis Alim Ulama Aceh Timur akan di doakan agar diberi kemenangan dalam Pilkada 2017 dan senantiasa mendapat lindungan Allah SWT.

Selain itu para Majelis Alim Ulama akan memberikan dukungan penuh kepada Ridwan Abubakar-Tgk Abdul Rani pada Pilkada mendatang dan akan menurunkan relawan maupun massa dalam kampanye maupun untuk membantu pengawasan suara di TPS dan PPK.

Untuk membalas jasa dari kelompok yang mengaku sebagai Majelis Ulama’Alim Ulama Aceh Timur, maka Ridwan Abubakar-Tgk Abdul Rani berjanji akan melaksanakan membuat Perda (Qanun) dan menerapkan aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah Asysariah Walmaturidiah dan bermazhab Imam Syafi`i di Aceh Timur.

Cabup independen ini juga berjanji akan menerapkan wajib belajar agama Islam (jak Beut) bagi anak Aceh Timur berusia 7 tahun hingga 17 tahun, selain itu beliau juga akan membuat kurikulum dayah berstandarkan pendidikan umum dan juga berjanji akan membangun dayah, balai pengajian dan TPA yang mandiri.

Menanggapi isi surat perjanjian yang beredar disosial media tersebut, pengamat politik dari IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa yang namanya minta dirahasiakan tersebut menkritisi dua hal, pertama persoalan nama kelompok tersebut dan persoalan program Nektu-Polem.

“saya baru tahu ada organisasi ulama lain yang ada di Aceh, soalnya dalam strukutur ulama di Aceh Timur, nama organisasi  yang mengatasnamakan Majelis Ulama Aceh tersebut tidak ada dalam struktur kecamatan,  semoga ini organisasi memang benar-benar ada, namun jika tidak ada maka saya himbau jangan jadikan wilayah ulama dijadikan mainan para tengku-tengku yang hobby berpolitik” ujarnya.

Selanjutnya pengamat politik dari dunia kampus tersebut juga menanggapi program kerja Nektu yang tercantum dalam perjanjian itu. Menurutnya  apa yang ditawarkan oleh Nektu tersebut merupakan sesuatu yang lama.

” biasanya ketika orang mencalonkan diri menjadi pemimpin,tentunya dia akan menawarkan sesuatu yang baharu untuk menarik simpatik warga, namun jika dilihat dari isi perjanjian tersebut sepertinya itu bukanlah sesuatu yang baru”

Akademisi ini juga menuturkan semua yang tertuang dalam perjanjian tersebut sudah dilakukan oleh bupati Aceh Timur non aktif Hasballah M.Thaib.

“ketika nektu berjanji akan membuat aturan tentang Aswaja bermazhabkan Syafi`i, Rocky malah telah melakukannya, Rocky juga telah membangun Dayah, TPA, Balai Pengajian dan lain-lain” ujarnya.

Beliau juga menambahkan jika masyarakat memilih Nektu-Polem pada pilkada 2017 mendatang, ini merupakan sebuah kemunduran bagi Aceh Timur.

“coba anda bayangkan,jika Nektu menang, masak bupati baru melakukan yang sudah dilakukan oleh bupati sebelumnya, ini lucu dan mengkhawatirkan” tambahnya

Akademisi tersebut juga mengingatkan masyarakat untuk memilih bupati yang sudah teruji kinerjanya dan tidak suka mengobral janji manis.
“buat apa memilih yang tidak pasti, lebih baik pilihlah yang sudah teruji” ungkapnya

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*