Kebelet Nikah Muda, Buat Apa?

Aceh Watch| Dalam semangat orang-orang yang kampanye nikah muda, hanya satu pertanyaan yang terlintas dalam pikiran. Buat apa?

Begini teman-teman, saya tahu bahwa yang dikejar adalah ‘kehalalan’. Kemudian, ini menjadi semacam ‘jualan’ oleh sejumlah kalangan yang mendorong anak-anak muda untuk segera menikah. Mulai dari ustad sosmed hingga akun-akun info mahasiswa, atau bahkan dari film yang biasa kita tonton.

Lalu, dengan berlindung di balik ‘rezeki sudah ada yang mengatur’, seolah urusan menikah seperti ending dalam film romantis: film berakhir dimana sang perempuan pergi dengan pangeran berkuda dan hidup bahagia selamanya. Takkan kelaparan. Takkan ada keributan. Semua bahagia sesuai imaji yang utopis.

Kenyataannya, nikah muda tak seindah paras Raisa dan Isyana. Pernikahan bukan urusan seks belaka. Pun, bukan persoalan hidup nyaman secara finansial. Nikah muda juga tak seperti drama percintaan di FTV. Kalau nikah muda adalah solusi atas hidup yang menyebalkan, jelas itu bukan nalar yang sehat.

Mengapa demikian?

BPS telah melakukan survei yang melibatkan perempuan berusia 20-24 tahun pada 2015. Dari survei tersebut, sekitar 23%-nya bahkan sudah menikah sebelum usia 18 tahun. Kalau Anda tinggal di Sulawesi Barat, berarti Anda hidup di daerah dengan angka pernikahan dini tertinggi di Indonesia. Setelah itu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tengah.

Anda bisa tanya ayah dan ibu, apakah mereka selalu ‘haha-hihi’ selama pernikahannya? Atau, kalau segan, coba bertanya kepada mereka yang bercerai. Tak sulit kok menemukan orang-orang yang bercerai. Sebab, menurut data Kementerian Agama, angka perceraian di negara kita sangat tinggi. Sama tingginya dengan angka pernikahan dini menurut riset Unicef.

Tapi kalau tak mau atau masih enggan bertanya, baiklah, saya coba paparkan alasannya. Kalau dari hasil observasi singkat, sebab utama perceraian adalah ketidakterimaan kedua pasangan terhadap perbedaan satu sama lain. Hal ini berhubungan dengan apa yang disebut oleh Unicef sebagai salah satu faktor utama nikah muda: kurangnya edukasi.

Coba kita pikir lagi, apa sih pernikahan itu sendiri? Rupanya, tak begitu banyak informasi mengenai pernikahan yang kita ketahui. Paling informasi yang sifatnya umum. Misalnya, pernikahan sudah diatur dalam agama dan itu dicintai Tuhan. Pernikahan juga dianggap sesuatu yang sangat diagung-agungkan dalam kultur kita. Atau, soal seks. Atau, paling jauh soal biaya resepsi yang semakin hari semakin besar, ya Allah…

Padahal, ada yang tidak kita lihat saat menggebu-gebu bicara soal nikah muda. Ilusi nikah muda, kemudian mengaburkan fakta bahwa perempuan bisa jadi kehilangan kebebasannya karena harus manut terhadap keputusan laki-laki – jika mengacu pada budaya saat ini.

Sementara bagi laki-laki, jelas semuanya tak lebih mudah. Jika seorang laki-laki dahulu hanya memikirkan urusannya sendiri, kini ia harus memikirkan kebutuhan istrinya. Mungkin juga termasuk mertuanya, jika mertuanya bawel.

Kalau memang mapan dan memiliki softskill yang dibutuhkan dalam dunia kerja atau minimal telah memiliki dua-tiga langkah ke depan agar keluarga aman secara finansial, jelas hal ini tidak ada masalah. Permasalahannya: berapa banyak anak muda semacam itu?

Setidaknya dua hal yang harus dipikirkan dalam pernikahan. Pertama, ya apalagi kalau bukan… Duit! Jangan mau ditipu bahwa makan sepiring berdua adalah kenikmatan hakiki. Jangan sok-sokan bilang semuanya gampang, jika dijalani berdua. Pada kenyataannya masih pusing mikirin subsidi dari orang tua yang lama-lama berkurang, bahkan terancam dicabut karena membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Mertua alias APBM.

Uang memang tak bisa membeli semuanya. Tapi senaif-naifnya, kita tetap butuh uang untuk bertahan hidup. Tanah dibeli dengan uang, begitu juga rumah. Belum cicilan, listrik, pulsa, gas, galon air, beras, lauk-pauk, baju, dan bahkan bulan madu yang kita bayang-bayangkan setinggi langit itu.

Kedua, soal mentalitas. Ini menjadi penting karena dalam pernikahan pasti akan banyak konflik, entah kecil atau besar, yang akan menjadi hambatan rumah tangga. Jika mentalitas hanya karena ingin dinafkahi atau sekadar hubungan menjadi halal – sementara halal yang dimaksud adalah pegangan tangan, pelukan, ciuman, hingga hubungan badan – jelas ada yang salah.

Karena begini ya, nikah itu kan pasti ada ribut-ributnya. Kalau tujuan menikah adalah hanya untuk bergantung kepada orang lain, kita hanya akan menjadi orang yang lemah. Itu takkan menjamin hidup kita akan menarik ke depannya.

Coba lihat pernikahan orang-orang yang bahagia. Itu selalu diisi oleh dua orang yang telah memiliki karakter dan menemukan siapa dirinya. Mereka jelas memiliki masalah, tapi dapat menyelesaikannya dengan baik. Sebab, ya itu tadi. Punya mentalitas dan kemandirian secara ekonomi.

Kalaupun nikah muda dianggap sebagai ibadah yang harus disegerakan, ya kali nggak butuh mental. Bukankah ibadah itu menyangkut keikhlasan dan keikhlasan itu butuh mental yang kuat?

Pada akhirnya, tentu saya ingin menegaskan satu hal sebagai penutup. Saya tidak melarang habis-habisan nikah muda. Kalau memang bisa dan tentu saja siap, silakeun… Namun, kalau mau realistis – apalagi masih bingung bagaimana hidup nantinya atau masih bergantung pada orang tua – yakin bisa dibilang sudah siap untuk hidup serumah dengan orang lain? Mampu berbagi banyak hal, terlepas hal itu Anda sukai atau tidak?

Nikah jelas bukan soal halal-halalan. Tapi pernikahan adalah soal tanggung jawab. Eh tapi, siapa yang tak ingin menikah muda, coba, setelah digambarkan begitu indahnya oleh ustadz sosmed dan akun-akun info mahasiswa?

Kau haus? Minum.

Lapar? Makan.

Bokek? Nikah, biar ada yang nafkahin.  Cari duit biar bisa menafkahi.

(Arief Utama)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*