BERITA

Benarkah Kautsar Dikambing Hitamkan Atas Kekalahan Partai Aceh?

Aceh Watch| Ketua Fraksi Partai Aceh, Kautsar, S.H.I di isukan akan diganti oleh teman sejawatnya Iskandar Usman Al Faraky. Hal tersebut disampaikan oleh seorang Jurnalis Aceh, Hendro Saky dalam status facebook.

Menurut Hendro, pergantian Kautsar dikarenakan kegagalan Partai Aceh memenangkan Pilkada Gubernur Aceh pada April 2017 silam.

Beliau juga menyebutkan bahwa Kautsar adalah korban dari peng-kambing hitam-kan kekalahan PA. Sepertinya tidak layak, jika kekalahan Mualem pada Pilkada 2017 harus ditanggung sendiri oleh Kautsar.

Berikut Tulisan lengkap Hendro Saky

Ngopi Terakhir Dengan Ketua Fraksi Partai Aceh, Kautsar, SHI

“Drok, mana kau, ngopi kita malam ini, ini kesempatan terakhirmu bisa ngopi sama ketua fraksi, besok sudah ada ketua fraksi baru,” pesan singkat Kautsar melalui layanan aplikasi WA.

Waktu ngopi pun kami bahas dengan membicarakan perihal ringan, yang sama sekali tidak membahas politik ataupun agenda2 politik kedepan.
Namun, saat hendak pulang, Kautsar kembali menegaskan bahwa dirinya tidak hanya di reposisi sebagai ketua fraksi, namun tidak di tempatkan di banggar, banleg ataupun alat kelengkapan lainnya yg strategis. “Bahasa sederhananya, abang kau ini di lucuti drok, cuma jadi staf biasa aja,” katanya renyah San itu membuat kami sama sama tertawa.

Saat Kautsar telah pergi, jujur tiba tiba aku tercekat, sebegitukah sebuah pertempuran politik harus mengorbankan seorang kader yang memiliki wawasan maju dan progresive. Haruskah Kautsar dikorbankan, dan dijadikan kambing hitam atas kekalahan Mualem pada Pilkada 2017 lalu.

Jika flashback pada 2012, saat dimana situasi politik berpihak pada PA, dan figur Kautsar berhasil sebagai sekretaris tim pemenangan berhasil mengantarkan pasangan zikir menjadi pemimpin Aceh, sepertinya tidak layak, jika kekalahan Mualem pada Pilkada 2017 harus ditanggung sendiri oleh Kautsar.

Tentu saja, selain menjadikan Kautsar kambing hitam, bacaan Kautsar yang menegaskan sikap bahwa PA harus berkoalisi dan mendukung Pemerintahan Irwandi, dinilai internal partai sebagai sesuatu yang jauh melampaui kewenangan yang dimilikinya. Walau bagi saya, apa yang dilakukan Kautsar menegaskan sikap itu sebagai bacaan akan pentingnya keberlangsungan politik Aceh kedepan.

Ritme politik dan gerak politik lokal kedepan tidak harus lagi berkutat pada aspek PA dan PNA, namun bagaimana kemudian menyatukan semua elemen kekuaran poltiik ini menjadi kekuaran Ril politik lokal, sehingga dinamika politik Aceh kedepan harus terfragmentasi pada frasa ” koalisi partai lokal versi partai nasional”

Namun, kerangka berpikir Kautsar sulit didefinisikan secara gamblang oleh beberapa orang internal partai, falsafah bawah politik harus bergerak maju dan dinamis, tidak akan mampu dilaksanakan jika benturan poltik di Aceh masih diarahkan pada pertempuran sesama parlok.

Begitulah, harus ada yang dikorbankan, semata mata bukan ingin menegaskan sikap dan spirit membangun, namun lebih kepada orientasi berkuasa. Dan selamat kepada Iskandar Usman Alfarlaky, yang moga moga akan dilantik sebagai ketua Fraksi PA DPR Aceh.

Namun pernyataan Hendro Saky yang menyatakan Kautsar adalah korban dari peng-kambing hitam-an kekalahan mendapatkan bantahan dari Kautsar sendiri.

Dalam komentarnya Kautsar menyatakan bahwa pergantian posisi tersebut merupakan hal yang wajar dan biasa dalam sebuah partai.

“sejak Pemilu 2009 sampai sekarang sudah ada 3 ketua fraksi; Tgk Ramli, Tgk Harun dan Kautsar. Artinya setiap 2,5 tahun selalu ada pergantian ketua”. tulis Kautsar

Berikut bantahan Kautsar melalui kanal koment facebook Hendro Saky

Pergantian posisi hal biasa, sejak Pemilu 2009 sampai sekarang sudah ada 3 ketua fraksi; Tgk Ramli, Tgk Harun dan Kautsar. Artinya setiap 2,5 tahun selalu ada pergantian ketua. Dalam penempatan posisi orang-orang partai di alat kelengkapan DPRA sangat tergantung sikap dan posisi partai menyikapi situasi politik saat ini dan masa hadapan. Saya mengabdi pada partai, tentu selalu siap diposisi apapun melaksanakan arah kebijakan partai. Kalau ada “nakal-nakal” sikit mohon dipahami sebagai kenakalan anak muda. Pergantian ini tak perlu dilihat dengan cara pandang ada yang dikorbankan karena saya bukan korban. Politik selalu dinamis pasti jabatan politik juga dinamis. Saya mengucapkan terimakasih atas dukungan dan bantuan sahabat-sahabat semua selama menjabat ketua fraksi Partai Aceh dan mohon dukungan yang sama juga diberikan untuk posisi saya yang baru. Btw, mukak kau drok terlalu serius dan aku jadi takut juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *