Eep Saefulloh Fatah, Si Jenius Yang Menjadi Konsultan Politik Jokowi dan Anies Sandi

Aceh Watch| Siapa yang tidak mengenal Eep Saefulloh Fatah, Sang Jenius konsultan politik Polmark ini kini namanya semakin berkibar setelah sukses menumbangkan Ahok. Terbukti Eep dan Polmark adalah jaminan mutu. Sentuhan tangan dinginnya mampu mengantarkan kemenangan demi kemenangan kandidat yang ditanganinya.

Sebut saja Pilgub DKI Jakarta 2012 lalu. Hanya bermodalkan hasil survey 12%, Eep Saefulloh Fatah mampu memoles Jokowi selama kampanye sehingga sukses menduduki kursi DKI-1 mengalahkan Foke. Padahal saat Pilgub DKI Jakarta 2012, serangan SARA terhadap Jokowi datang dari segala penjuru. Fitnah raja dangdut Rhoma Irama pada ibunda Jokowi menjadi viral. Berkat kejeniusan Eep Saefulloh Fatah, serangan SARA pada Jokowi berbalik menjadi keuntungan buat Jokowi. Daya kreatifitas Eep Saefulloh Fatah memang luar biasa. Mampu merubah hal negatif isu SARA menjadi positif. Dan kita semua tahu, melalui pertarungan 2 putaran, Jokowi akhirnya tampil sebagai pemenang. Kemenangan Jokowi adalah kemenangan Eep Saefulloh Fatah.

Sukses mengantarkan Jokowi duduk di DKI-1, Eep Saefulloh Fatah pun disewa oleh PKS untuk memuluskan jalan Ahmad Heryawan pada Pilgub Jabar 2013. Berbeda dengan Jokowi yang hanya bermodalkan survey 12%, modal Ahmad Heryawan sebagai petahana sudah cukup tinggi 30,80%. Tugas Eep Saefulloh Fatah cukup ringan. Dan tanpa berdarah-darah, Eep Saefulloh Fatah mampu menempatkan Ahmad Heryawan duduk di kursi Jabar-1 dengan kemenangan 1 putaran saja 32,39 mengalahkan Rieke dyah Pitaloka dan Dede Yusuf.

Setelah sukses mengantarkan Jokowi di Pilgub DKI Jakarta dan Ahmad heryawan di Pilgub Jawa Barat, Eep Saefulloh Fatah kembali diminta oleh Jokowi menjadi konsultan Pilpres 2014. Prabowo dan Gerindra sangat marah dengan keputusan Jokowi maju Pilpres 2014. Sebelumnya ada kontrak politik antara Megawati dan Prabowo yang menyatakan Megawati akan mendukung Prabowo dalam Pilpres 2014. Selain kontrak politik ada juga janji kampanye Jokowi yang akan menuntaskan masa jabatannya hingga 2017.

Di Pilpres 2014 tugas Eep Saefulloh Fatah sangat berat. Selain head to head dengan Prabowo, citra negatif Jokowi yang meninggalkan kursi DKI-1 memaksa Eep Saefulloh Fatah harus memutar otaknya untuk mengubah citra negatif menjadi positif. Saat itu rumus yang ditawarkan Eep Saefulloh Fatah cukup ampuh. Dengan Jokowi menjadi presiden maka masalah di Jakarta akan lebih cepat diatasi. Tugas Eep Saefulloh Fatah lebih berat lagi karena Jokowi bukanlah ahli debat. Eep Saefulloh Fatah harus memberikan contekan untuk meningkatkan kepercayaan diri Jokowi. Dan jurus Eep Saefulloh Fatah pun berhasil. Meskipun dengan selisih yang tipis, Eep Saefulloh Fatah sukses menempatkan Jokowi duduk di kursi RI-1 mengalahkan Prabowo Subianto.

Dan di Pilgub DKI Jakarta 2017 ini, Eep Saefulloh Fatah seperti ingin menebus dosa-dosanya. Eep Saefulloh Fatah adalah orang yang memenangkan Jokowi-Ahok di Pilgub 2012 lalu. Eep Saefulloh Fatah jugalah orang yang menyebabkan Jokowi harus meninggalkan kursi DKI-1 beralih ke kursi RI-1. Dan secara tidak langsung, Eep Saefulloh Fatah lah orang yang menempatkan Ahok duduk di kursi DKI-1 yang akhirnya menimbulkan “kekacauan” di Jakarta.

Disamping alasan ekonomi dan pertemanannya dengan Anis-Sandi, Eep Saefulloh Fatah memiliki beban moral dan merasa bertanggungjawab untuk mengembalikan Jakarta menjadi kota yang aman, tentram dan damai seperti sediakala sebelum Ahok berkuasa. Eep Saefulloh Fatah yang mengangkat Ahok di Pilgub DKI Jakarta 2012 lalu dan Eep Saefulloh Fatah pula menjadi orang yang menurunkan Ahok di Pilgub DKI Jakarta 2017. Prilaku Ahok yang kasar, beringas, pemarah, mau menang sendiri, anti kritik, merasa paling benar dan mudah mengeluarkan caci muka di ruang publik membuat Eep merasa tidak nyaman terhadap warga DKI Jakarta yang telah memilihnya di Pilgub 2012. Sebagai konsultan profesional, Eep tentu tidak bisa lepas dari tanggungjawab jika jagoannya ternyata suka menyakiti rakyatnya.

Bagi Eep Saefulloh Fatah tentu tidak sulit menaklukan Ahok. Segala rahasia dapur Ahok sudah ada dalam genggamannya. Sebagai konsultan di Pilgub DKI Jakarta 2012 Eef Saufulloh Fatah sudah tahu persis kelebihan dan kelemahan Ahok. Jika pada Pilgub DKI Jakarta 2012 Jokowi menang karena diserang isu SARA, sebaliknya di Pilgub DKI Jakarta 2017 Ahok tumbang diserang isu SARA. Dalam sebuah tulisannya, Eep Saefulloh Fatah menyebutkan kekalahan Ahok karena memang warga DKI Jakarta ingin mengganti “pelayannya”. Eep menggunakan logika sederhana, jika seorang pelayan memiliki sifat arogan, kasar, mau menang sendiri, merasa benar sendiri, suka mencaci maki dan sering memasang wajah penuh amarah dan dendam kesumat maka sangat wajar jika warga yang dilayani ingin mengganti pelayan tersebut dengan pelayan yang lebih baik dengan sifat dan karakter yang melayani penuh etika dan sopan santun. Karenanya, sejak Pebruari 2016 Eef Saufulloh Fatah sudah tahu Ahok pasti kalah. Artinya, sejak menggelar survei pertama kali, Aep sudah tahu Ahok bisa ditumbangkan dengan mudah. Dan terbukti, Aep muncul sebagai pemenang dengan tumbangnya Ahok.

Dengan rentetan prestasi kemenangan yang gemilang tersebut, maka menjadi sangat lucu dan bahkan bisa dibilang pamer kedunguan dan kebodohan di tempat umum, jika ada kompasianer yang menulis bahwa analisis Eef Saufulloh Fatah adalah analisis sampah. Logikanya, kalo analisis sampah saja mampu mengantarkan Jokowi jadi Gubernur DKI Jakarta lalu menjadi Presiden Republik Indonesia lalu bagaimana jika Eep Saufulloh Fatah melakukan analisis yang bukan sampah. Menyebut analisis Eep Saefulloh Fatah adalah analisis sampah justru semakin menunjukkan bahwa andalah sampah masyarakat sesungguhnya. Sebagai penutup saya ingin memberi sedikit nasehat buat Ahoker, kalah memang menyakitkan. Sedih dan kecewa pasti. Memang tidak enak menjadi seorang pecundang. Apalagi Ahok kalahnya telak pasti lebih menyakitkan lagi. Sudah membela Ahok mati-matian, siang malam ngompasiana dengan mengorbankan segalanya tapi hasilnya kalah telak pasti sedih, kecewa dan sakit hati. Sudah terlanjur memutuskan silaturahmi dengan sahabat dan rekan bisnis demi membela Ahok tapi ujung-ujungnya hanya kalah telak pasti sakit banget. Wajar. Ibarat pepatah, sudah jatuh dari loteng tertimpa tangga besi. Duh…sakit banget. Tapi ingat Pilgub DKI Jakarta 2017 telah selesai. Ahok sudah kalah telak dan Anis sudah menang mutlak. Ahok juga sudah mengucapkan selamat ke Anis. Jadi terimalah kekalahan telak Ahok dengan lapang dada. Saatnya move on…Kalo masih belum bisa move on juga, silakan siapkan Ahok menjadi cagub Bali, Papua atau Sumut. Atau jika masih ingin berkuasa di DKI Jakarta, siapkan Ahok untuk pertarungan 5 tahun mendatang di 2022. Sekarang kita nantikan saja, di Pilgub Jawa Barat 2018 nanti, Eep Saefulloh Fatah disewa siapa? Dedi Mulyadi sudah mengundang Eep untuk hadir di Rapimda Golkar. Dedi Mulyadi juga sudah meminta Eep untuk melakukan survei. Tapi menurut Eep dirinya dikontrak Dedi Mulyadi sebatas untuk melakukan survei, belum dikontrak sebagai konsultan. Apakah tangan dingin Eep Saefulloh Fatah kembali mampu menempatkan jagoannya duduk di kursi Jabar-1? Jika sukses merebut Jabar-1, Eep Saefulloh Fatah layak mendapat gelar “Sang Jenius Penakluk Pilpres dan Pilgub”. Menarik untuk ditunggu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*