Ketika Semuanya Berhenti Maka yang Tinggal Hanyalah Cerita: Sebuah Esai untuk Kautsar

PERGANTIAN ketua fraksi untuk partai sebesar PA (Partai Aceh) adalah tidak biasa dan jauh dari kesan normal. Kautsar, diganti setelah hasil Pilkada tahun 2017 menunjukkan hasil yang tidak diharapkan.

Mualem gagal menjadi gubernur, dan Khalili kandas sebagai bupati Bireuen, wilayah tempat di mana Kautsar membangun karir politiknya.

Jadi, harapan Mualem supaya masalah ini dilihat sebagai sesuatu yang normal. Atau, seperti kata Muharuddin “jangan diterjemahkan macam-macam,” tentu saja tidak akan mampu membendung opini yang sudah beredar di publik; bahwa Kautsar telah dihukum!

Membaca nama Kausar, terutama ketika polemiknya muncul, mengenai mendukung pemerintahan yang baru, maka membawa ingatan saya ke 19 tahun yang lalu. Di masa-masa dimana pidato dan agitasi menjadi senjata untuk menjatuhkan sebuah rezim Orde Baru yang despotik.

Detilnya saya lupa. Namun yang paling diingat adalah hari-hari itu semakin panas. Rezim Harto yang setahun sebelumnya seperti tak tergoyahkan, ternyata semakin rapuh akibat krisis keuangan. Di seluruh pelosok negeri gelombang protes semakin tak terbendung. Semua mulai berfikir dan yakin, bahkan oleh mereka yang dibesarkan oleh Harto, bahwa sebentar lagi rezim tua ini akan digulung.

Di Banda Aceh, mahasiswa juga turun ke jalan. Dalam satu demonstrasi di halaman gedung DPRA, di bawah matahari yang semakin terik, saya melihat di atas mobil RRI, satu persatu mahasiswa berpekik dan berseru alasan mengapa rezim Harto harus berakhir. Namun, yang paling menarik bagi saya adalah orasi dari Kautsar.

Orangnya beperawakan kecil dan kurus, namun suaranya lantang. Orasinya penuh dengan bobot dan satire. Dimulai dengan sebuah cerita imajiner tentang Presiden Amerika yang terus berganti, namun Suharto masih saja duduk manis sebagai Presiden Indonesia lebih tiga dekade. Ketika ditanya apa rahasianya,Suharto menjawab, kuasai militer.

Kautsar bersama organisasi pergerakannya, Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat (SMUR) percaya bahwa militerisme adalah sumber utama penghalang dari tegaknya sebuah masyarakat yang demokratis. Militerisme hanya akan menumbuhkan negara yang totaliter.

Melalui penelitian tesis saya yang mendalam mengenai gerakan sosial di Aceh menjelang jatuhnya rezim Soeharto, sampai aksi referendum di tahun 1999, SMUR memiliki corak gerakan tersendiri. Dengan menjadikan marxisme sebagai pisau gerakannya, telah menjadikan buffer aksi itu memiliki wacana dan gerakan yang lebih sistematis. Dan, Kautsar yang mengendalikan organisasi perlawanan itu.

Secara personal, Kautsar adalah sosok yang kompleks. Sebab dia tumbuh dengan melewati beberapa paradigma; dimulai dari Islam politik, Marxisme dan Etno-Nasioanalisme.

Secara genealogis, garisnya adalah Islam politik. Dia anak dari Muhammad Yus. Politisi PPP yang terkenal itu. Garis politik itu seperti hampir diikuti olehnya. Dalam satu perjumpaan, Muhammad Yus, bercerita kepada saya mengenai sikap tegas putera sulungnya tentang rencana sebuah pembangunan. Ketika itu Muhammad Yus menjabat sebagai ketua DPRD Kota Banda Aceh, didatangi oleh  seorang investor, untuk membicarakan tentang kemungkinan Pulau Aceh menjadi pusat pariwisata.

Setelah investor itu pulang. Tiba-tiba Kaustar remaja datang dan menghampiri Abu-nya, dengan lantang, dia memberi penegasan “Abu, tidak boleh satu jengkalpun tanah di Aceh yang boleh tempat maksiat!”

Saya teringat, ketika hal itu diceritakan olehnya, wajah Muhammad Yus menerawang jauh. Seperti memasuki lorong romansa yang dalam. Saat itu, mungkin Abu Yus berkeyakinan bahwa puteranya itu itu akan menjadi pelanjutnya kelak.

Akan tetapi tidak demikian. Di usianya yang semakin menanjak, dia mulai menjauhi kanan dan semakin ke kiri. Saya mencoba memahami perubahannya paradigmanya itu.

Dia memberikan tiga alasan mengapa memutuskan meninggalkan Islam politik. Pertama, setelah melihat bahwa agama tidak memiliki peranan yang besar melakukan perubahan sosial politik.

Kedua, adanya kekecewaan terhadap sikap PPP yang tidak konsisten untuk melakukan penolakan terhadap hasil pemilu 1997, yang sebelumnya dimasa kampanye, PPP terus menyerukan kritiknya terhadap penyelenggaraan Pemilu.

Ketiga, adanya sebuah fenomena politik baru di Solo pada kampanye Pemilu 1997 dengan munculnya frasa “Mega Bintang.” Sebagaimana pengakuannya, sebagai anak yang dididik dalam suasana Islam politik yang ideologis, adanya koalisi antara PPP dengan PDI di Solo, Jawa Tengah, baginya cukup membingungkan. Sebab, susah untuk menjelaskan, bagaimana sebuah partai Islam, dapat membangun koalisi dengan PDI, sebuah partai yang dianggap sekuler dan abangan.

Namun, dia juga tidak lama menjadi kiri habis. Pergolakan politik Aceh yang semakin memanas setelah jatuhnya rezim Orde Baru, membuatnya bersentuhan dengan gagasan etno-nasionalismenya Hasan Tiro. Persentuhan yang membuatnya ikut bergerilya di zaman Darurat Militer dan kemudian, ikut pula menjatuhkan pilihan politiknya pada Partai Aceh (PA). Partai lokal yang diyakininya sebagai kelanjutan dari Gerakan Aceh Merdeka.

Keyakinan bahwa harus berada di jalur kepentingan nasional itu, bahkan jauh-jauh hari sebelum PA itu dibentuk. Dalam sebuah percakapan informal, sepulang dari acara resepsi perkawinan di Gedung Sosial Banda Aceh, awal tahun 2007. Saya memboncengi Kautsar, mengantarnya pulang.

Sepanjang perjalanan kami membahas tentang politik seperti apa yang harus dilakukan paska perjanjian damai. Kautsar percaya bahwa elemen sipil 98 harus bergabung dengan partai lokal yang akan dibentuk oleh GAM. Sehingga, menurutnya, membentuk partai lokal di luar GAM adalah tindakan yang tidak tepat.

Saya tidak tahu, apakah Kautsar masih ingat tentang apa yang kami bicarakan itu. sebab beberapa hari sebelum penggantiannya sebagai ketua fraksi PA, saya bersama teman-teman lain, minum kopi bersamanya. Hal yang sangat jarang kami lakukan sebelumnya.

“Saya akan tetap di Partai Aceh, apapun resikonya,” dengan nadanya masygul. Di tangannya ada buku biografi politik Amir Husin Mujahid, salah satu tokoh Aceh yang berpaling berpengaruh di abad ke-20.

Dari buku itu kami berdiskusi panjang tentang apa yang sudah berlalu dan masa depan yang belum pasti. Saya menunjuk buku itu, dan mengatakan “Setelah semuanya selesai, maka yang tersisa hanyalah cerita. Amir Husin Al Mujahid telah melakukannya. Dia meninggalkan cerita panjang di atas panggung sejarah.”

Walau saya tidak percaya bahwa Kautsar telah selesai, setelah melihat apa yang dilakukannya selama hampir dua dekade di dunia pergerakan dan politik. Namun politik selalu saja memerlukan siapa yang harus dihukum, untuk kemudian menutupi apa yang telah berlaku salah. Kalau memang Kautsar itu dihukum dan harus berhenti, maka percayalah dia masih memiliki cerita sebagai modal, untuk nafas politiknya yang lebih panjang. [Muhammad Alkaf | Pengajar di IAIN Langsa dan Kurator di Padebooks]

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*