‘Wakil Rakyat’ itu Bernama Hacker

AcehWatch| Netizen, mungkin hanya segelintir kelompok sosial masyarakat yang tidak terorganisir, namun terkadang punya kepentingan dan pandangan yang serupa dalam melihat sebuah persoalan. Tak terkecuali dalam kasus pembobolan akun salah satu provider telekomunikasi terbesar tanah air.  Pada hari Jumat (28/04/2017) pagi, rakyat dunia maya tanah air dikejutkan dengan pembobolan situs resmi Telkomsel.

Meskipun kasus hacking mungkin sudah menjadi fenomena yang lazim di dunia maya. Namun, hal ini bisa menjadi perhatian khusus bagi publik, khususnya netizen, bila hal tersebut mewakili segenap suara dan aspirasi kebanyakan orang yang selama ini hanya diam, atau tidak mampu menyuarakan keluhan dan keresahannya.

Seperti para pengguna kartu lainnya, yang mayoritas memakai kuota dengan biaya yang dianggapnya sangat ‘mencekik kantong’. Hacker tersebut membobol laman resmi Telkomsel sembari menyuarakan kekesalan dan kekecewaannya pada biaya kuota internet dari penyedia layanan telekomunikasi ini. Spontan, para netizen seakan bersuka cita dengan kejadian tersebut. Sejumlah netizen merespon dengan berbagai komentar mengenai praktik pembobolan situs Telkomsel, bahkan ada banyak netizen yang mendukung dan mengamini apa yang diutarakan oleh hacker di beranda website resmi itu.

Meski praktik hacking dalam berbagai kasus bisa dianggap perbuatan kejahatan (cybercrime). Namun ada temuan menarik dari maraknya praktik pembobolan yang dilakukan oleh mayoritas pelaku yang berusia muda. Dalam sebuah laporan yang dirilis oleh National Crime Agency (NCA) di Inggris, Januari 2017, ada banyak motif mengapa seorang hacker, yang rata-rata berusia remaja, melakukan praktik pembobolan.

Setelah melakukan wawancara kepada para pelaku hacking yang berusia muda, NCA menyimpulkan bahwa alasan menggunakan keterampilan untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi, yang cenderung bersifat politis juga menjadi salah satu motif utamanya. Selain itu, motif untuk menunjukkan kemampuan mereka kepada rekan sebayanya juga termasuk ke dalam tujuan utama yang disebutkan. Mengejutkannya, alasan finansial, untuk mendapatkan keuntungan bukanlah tujuan utama bagi mereka.

Hal itu senada dengan yang diutarakan oleh Paul Hoare, manajer senior di NCA bagian cybercrime yang menyatakan bahwa mereka (para hacker muda) tidak terlibat dalam pencurian, maupun kecurangan untuk memperoleh keuntungan finansial,  melainkan hacking nampak sebagai “moral crusade”  (perang moral) bagi mereka, ujarnya seperti dikutip dari theguardian.com.

Nampaknya motif untuk mengatasi hambatan politis itu juga dilakukan oleh beberapa hacker di tanah air, seperti yang baru saja terjadi. Dimana ketidakpuasan atas tarif kuota yang dianggap terlalu mahal dan tidak terjangkau bagi kebanyakan orang, diprotes melalui aksi pembobolan situs resmi terkait lengkap dengan ‘kata-kata mutiara’, umpatan kekesalan atas tarif mahal tersebut.

Seyogyanya saluran untuk menyampaikan aspirasi atas persoalan publik yang menyangkut kepentingan banyak orang, adalah tugas wakil rakyat yang mendapat mandat untuk menyuarakan kepentingan, aspirasi, maupun permasalahan yang tidak dapat terselesaikan dengan baik. Melihat kejadian dan respon publik terhadap praktik pembobolan yang terjadi baru-baru ini, seolah mereka merasa terwakilkan atas pesan yang disampaikan oleh hacker di beranda situs resmi.  Bahwa kami para netizen, yang merupakan para pelanggan setia, merasa sangat keberatan dengan mahalnya tarif kuota, bahkan ada yang menyampaikan harus membeli kuota berkali-kali dalam kurun waktu kurang dari sebulan.

Kita mungkin tidak mengenal siapa dan apa latar belakang para hacker itu. Namun seringkali apa yang mereka lakukan bisa mewakili keresahan, keluhan, aspirasi publik yang kadang, bahkan seringkali terabaikan . Bagi mereka, yang mungkin memiliki kemampuan unik ini, bisa menjadi penyambung lidah rakyat. Terlepas dari kontroversi praktik hacking yang dilakukannya, terkait etika dan hukum, mereka seakan mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh para wakil rakyat, yang belakangan ini semakin abai dengan peliknya persoalan hidup rakyatnya. Seperti salah satu cuitan netizen di sosial media “Maacih Hacker, kamu telah menyuarakan isi hati kami”. Seakan ingin menyentil, dalam kasus ‘mahalnya kuota’ engkaulah wakil rakyat yang sebenarnya.

  • Penulis: Muh. Fardan N
  • (Pegiat Kajian Sosial di HMI dan Rumah Buku Carabaca)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*