Bang Bari, Panglima Muda Daerah II Wilayah Batee Iliek

Aceh Watch| Menjumpai adinda Andre, anak kandung dari almarhum bang Bari, Panglima Muda Daerah II Wilayah Batee Iliek. Senang mendengar kabar adinda Andre akan bertarung sebagai Caleg PA pada Pileg mendatang di Kabupaten Bireun.

Di bawah ini tulisan testimoni saya tentang Bang Bari. Saya yakin, keberanian, kesetiaan dan kepemimpinan yang begitu kuat melekat pada sosok Almarhum Bang Bari juga mengalir pada dirimu Andre.

BEULANGONG BASAH, di tengah hamparan kerikil dan bebatuan tepi Sungai camp Belangong Basah, lelaki itu berdiri tegak sambil mengacungkan pistol ke atas. Lalu Tum.. Tum.., Suara senjata memecah keheningan pagi. Sontak, Semua pandangan tertuju padanya. Beliau adalah bang Bari, Panglima Muda Daerah II Wilayah Bate Iliek.

Suara senjata di kancah perang tentu bukan pertanda baik. Wajar ada pejuang yang kaget, bahkan ada yang terlihat panik. Sementara pejuang yang terlatih spontan tiarap, atau melesat cepat mencari benteng pertahanan.

Sebagai Panglima Prang, tentu bang Bari paham akan situasi dan psikologi pasukan. Lalu Dengan cepat panglima menyeru agar semua pejuang merapat padanya.

Mendengar seruan panglima, perasaan agak sedikit lega. Tanpa menunggu berselang menit semua pejuang merapat, tak terkecuali yang sakit. Tgk. Gondrong (alm) misalnya, wakil Panglima Operasi Daerah II Wilayah Batee Iliek ini meskipun sedang diserang malaria, namun Gondrong terlihat tegak di kerumunan dengan selimut membalut badan.

Walaupun hati mulai lega, nuansa tegang bercampur penasaran terasa masih menghantui sekujur badan dan jantungpun terus berdetak kencang. Ada apa gerangan, apakah musuh hendak menyerang camp belangong basah ini?. Ataukah Panglima hendak memberikan kabar penting dari Pimpinan di Swedia. Maklum sudah berbulan-bulan para pejuang begerilya di hutan paska penetapan status Darurat Militer oleh presiden RI. Kala itu, haba mameh merupakan pengokoh moral pejuang yang sebagian mulai kelelahan.

Setelah semua berkumpul, Panglima Bari yang berdiri gagah di tengah barisan pejuang berkata “stok Breuh kabeh, uronyo tatreun ue Cot Pupok”, kecuali padum-padum droe Tentra, ureng saket ngen ureung tuha tinggai bak camp” tegas bang Bari.

Setelah arahan selesai, resah gelisahpun buyar seiring bubarnya barisan pejuang untuk mempersiapkan kebutuhan ala kadar dalam perjalanan. Di salah satu sisi camp nampak Mancong, Wakil Panglima Muda dan Edy Tansil beserta belasan pasukan GAM bergegas hendak menjalankan Perintah Panglima. Mengamati situasi itu, lalu bang Bari berkata pada Mancong, ” Dro tetap di Beulangong Basah sajan ureungnyo”, Kemudian bang Bari Menunjuk 8 (delapan) orang TNA bersenjata laras panjang untuk ikut bersamanya mengawal belasan pejuang non bersenjata menjemput logistik yang sudah dipersiapkan oleh simpatisan GAM di Cot Peupok.

Peristiwa itu tentu membuat saya berdecak Kagum. Sebab akal waras saya beranggapan, tidak seharusnya seorang Panglima ikut dalam misi gulam breuh. Tugas sekelas itu bisa saja beliau perintahkan dipimpin oleh salah seorang ule pasukan, atau dilaksanakan oleh Pimpinan non tempur lainnya dengan pengawalan Teuntra GAM. Namun seratus persen anggapan saya salah. Bang Bari yang cukup disegani di kalangan GAM Bireun itu ternyata tak enggan ambil bagian dalam memimpin misi angkut logistik.

Berjalan kaki dari Belangong Basah menuju Cot Peupok memakan waktu lebih kurang separuh hari. Kala itu kami berjalan melewati hutan dan bukit-bukit ilalang serta melintasi bekas pemukiman transmigrasi yang telah dimangsa belukar.

Bang Bari bersama 4 (empat) pasukan yang menenteng senjata laras panjang berjalan paling depan, diikuti sekitar lima belas pejuang tanpa senjata yang membentuk barisan satu-satu memanjang ke belakang. Sementara 4 (empat) pejuang bersenjata lainnya bergerak paling belakang.

Selama perjalanan perasaan gelisah tak karuan. Dalam hati saya terus berdoa semoga tak ada musuh yang menghadang. Selain itu, untuk menangkan diri, saya yang berjalan diantara Tu Lem dan Aweng setengah berbisik mengajak mereka berbincang tentang berbagai hal. Terutama rasa penasaran saya kepada Aweng yang ngefans berat dengan musik Rock. Hal itu saya ketahui sebelum Darurat Militer dicetuskan Presiden Mega (era CoHA). Saat itu, di camp Blang Rheum, sosok TNA berpostur kekar ini sering terlihat duduk merangkul kaki di depan TV dengan remote lengket di tangan. Kepalanya menganguk-angguk menikmati hentakan musik Guns N’ Roses (GNR) suguhan VCD bajakan yang suaranya disetel sedikit keras.

Dalam perbincangan itu Aweng mengaku dirinya suka musik Hard Rock, terutama lagu-lagu Guns N’ Roses. Aweng beralasan Guns N’ Rose merupakan grup musik pencetak maha karya musik rock yang selalu enak di dengar. Keunggulan GNR dibandingkan grup musik Rock lain, menurut sepupu Mancong ini terletak pada permainan Gitar yang memukau dipadu olah focal yang unik oleh Axl Rose.

Mendengar penjelasan Aweng tentu membuat saya terkesima. Sebab saya yang saat itu bestatus Mahasiswa di Kutaraja tentu ikut kesetrum berat ama GNR. Dampak dari gempuran siaran radio FM yang kala itu lagi bertus di Banda Aceh dengan suguhan lagu-lagi impor yang diputar siang dan malam. Terus dengan sok menyidik saya kembali bertanya pada Aweng “Lagu pue yang paleng galak dron dari grupnyan bang?”. Dengan mantap Aweng menjawab “Sweet child o’ mine”. Spontan saya berujar “Bak budiek, bereh cit selera droneuh bang Aweng”. Aweng menimpal “Lam lagunyan melodi gitar pembuka lagu bereh that”. Soe roeh nan gitarisnyan bang, ka tuwoe long?”, tanya Aweng. Dugaanku kali ini Aweng bepura-pura lupa. Lalu saya menjawab “Slah”. “Betoi!” kata Aweng, “Dijieh wate dipheh gitar, rukok sabe bak bibi”. Pungkas Aweng dengan rasa kagum.

Selanjutnya Aweng menyampaikan kepada saya sebuah harapan kecilnya jika Nanggroe ka meuhase kelak, dia berkeinginan suatu saat bisa menyaksikan langsung konser Guns N’ Roses di Luar Negeri.

Menyimak harapan Aweng tersebut, dan tentu untuk sekedar menghibur saya berkata “menyoe nanggroe ka meuhase hana payah tajak ue luwa nanggroe sare bang, talake bak Wali begeubri izin tapeuget konser Guns N’ Roses hino di ateuh glenyo”. Kemudian dengan nada ragu Aweng berucap, “pue mungken geubri izin le Wali tapeuget konsernyan ino”. Saya menjawab “talake dukungan bak bang Bari, menansyit talake begeupeukong le bang Darwis”. Lalu dengan nada berkelakar Aweng berkata “Menyoe hana geubri, neudemo bang beuh!, droneuh ken aktifis, meufhom pekara demo”. Mendengar kalimat itu spontan aku terbahak, pada waktu bersamaan bang Bari menoleh ke belakang. Otomatis mulut kami terkunci. Selanjutnya Saya, Aweng dan Tu Lem berjalan beriringan tanpa berucap sepatahpun hingga akhirnya tiba di Cot Peupok menjelang sore hari.

Tiba di Cot Peupok kami disambut beberapa pasukan dan simpatisan GAM dengan berkarung-karung beras yang telah mereka tumpuk di balik semak. Tanpa menunggu aba-aba para pejuang begerak cepat mengambil dan memikul karung berisi beras itu. Namun bang Bari segera memerintahkan mereka untuk beristirahat sejenak. Saat itu raut wajah Panglima terlihat lega, beliau duduk melepas penat di atas beton pembatas gorong-gorong.

Seperti menemukan saat yang tepat, lalu seorang pejuang mendekat pada posisi Panglima. Kemudian dia menyerahkan satu kantong plastik berukuran besar kepada beliau sembari menyebutkan nama seorang simpatisan yang berdomisi di Blang Gandai sebagai pemberi bingkisan itu. Tanpa menunggu lama kemudian Panglima membuka kantong plastik itu. Terlihatlah beberapa selop rokok merek Ardath dan Komando yang meruah di atas pangkuannya.

Menyaksikan Pemandangan di atas terang saja membuat Para pejuang saling berpandangan, dengan jakun naik turun seakan ada yang gatal. Wajar, merokok merupakan satu-satunya kesenangan yang tersisa bagi gerilyawan di hutan. Apalagi kala itu sudah tergolong lama mereka tidak menikmati kepulan asap rokok pabrikan. Paham dengan situasi “genting” tersebut dengan segera bang Bari membuka dua selop (pack) rokok, kemudian membagikannya kepada semua pejuang.

Separuh jam usai melepas penat, bang Bari yang sebelum era GAM juga dikenal sebagai “Bos” Kota Bireun itu bangkit dari duduknya. Lalu beliau menyampaikan info kepada saya bahwa Kautsar, salah seorang aktifis buruan nomor wahid serdadu Indonesia sedang turun dari Sarah Sirong menuju Cot Peupok bersama Fauzan Boboho dan Marbawi serta Pasukan Adi P. Tanpa menunggu tanggapan dari saya, selanjutnya Panglima berkata “menyoe na peureule merempok ngen Kaustar, dro Hendra hana suwah gisa le ue Belangong Basah, preh manteng hino sajan ureungnyo” Ungkap bang Bari seakan bisa membaca fikiran saya. Persekian detik kemudian kami berjabat tangan dan bang Bari bersama para pejuang kembali ke camp Belangong basah dengan goni beras di pundak masing-masing.

Sembari menunggu Kautsar, beberapa waktu kemudian saya bergabung dengan satu regu Pasukan GAM di bawah Komando Gurning yang salah satu anggota pasukannya berlakap sandi “Muda Balia”. Setelah Damai terwujud, sosok eks GAM berwajah tampan ini bergelut dalam usaha kuliner di Banda Aceh.

Peristiwa di atas merupakan pertemuan terakhir saya dengan bang Bari dan sahabat saya Aweng. Para pemberani yang loyalitasnya kepada Pimpinan dan perjuangan tak tertandingi. Beberapa bulan kemudian saya membaca berita bahwa bang Bari dan adik kandungnya (Andi) syahid. Tak lama kemudian Ikhsan mengabarkan kepada saya, Aweng beserta sejumlah pasukannya juga syahid dalam sebuah pertempuran. Semoga Allah memberikan tempat yang layak kepada mereka semua.

Belasan tahun berlalu. Saat ini, ketika saya melihat Andre, ingatan selalu berbalik ke belakang pada sosok bang Bari. Terang saja, Andre memiliki perawakan dan karakter yang nyaris sama dengan almarhum ayahnya. Lebih dari itu saya berharap, kehadiran Andre sebagai salah seorang Calon Anggota Legislatif Partai Aceh pada Pileg mendatang merupakan keniscayaan. Sebab, Andre merupakan generasi idiologis perjuangan yang dibesarkan dalam kancah perang, sekaligus paham situasi kekinian. Insya Allah Andre akan mewarisi kepemimpinan politik perjuangan Aceh di Kabupaten Bireun, sebagaimana yang pernah dilakonkan oleh almarhum bang Bari pada masanya. Selamat berkiprah Adinda Andre.

Hendra Fadli.
Sahabat Bang Bari.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*