Cara Kerja Teknologi VMS dan Kelemahannya

Aceh Watch| Pemerintahan Irwandi Yusuf berencana membeli 6 Pesawat yang telah dilengkapi teknologi Vessel Monitoring System (VMS) atau yang lebih dikenal dengan sistem pemantauan kapal perikanan berbasis satelit. Mungkin masyarakat banyak yang belum mengetahui apa itu teknologi VMS?

Vessel Monitoring System (VMS)

VMS menggunakan pemancar elektronik, ditempatkan di kapal nelayan, yang mengirimkan informasi tentang posisi kapal untuk aparat penegak hukum melalui satelit. Hal ini memungkinkan seseorang di darat, pemantauan transmisi tersebut, untuk menentukan apakah kapal berada dalam wilayah yang tertutup. Sistem VMS ini terdiri dari jaringan sentral pusat kendali pesan elektronik (service centre), modem radio untuk transmisi data di kanal HF dan terminal pesan elektronik yang tersebar di kapal-kapal nelayan dibawah 30 GT. Jika sistem ini dipasang pada kapal nelayan tradisional, maka para nelayan dapat mengirim pesan kepada pusat kontrol untuk kebutuhan segala informasi. Pesan yang dikirim dapat berupa informasi posisi, berbagai pesan dan data seperti kadar garam laut, kondisi bahan bakar, suhu air laut, sinyal SOS ataupun pesan tekstual elektronik. Terdapat beberapa faktor yang terkait dengan pelaksanaan VMS, termasuk berbagai jenis peralatan dan biaya yang terkait, kapal ‘kemampuan untuk melakukan VMS, operasi VMS persyaratan, cakupan kapal, dan kolaborasi dengan teknik penegakan tradisional.

Fungsi dasar VMS adalah untuk menyediakan laporan mengenai lokasi kapal secara berkala. VMS trek gerakan kapal dan dapat memberikan informasi pada kecepatan dan program. Pihak berwenang dengan demikian pemantauan dapat memeriksa berbagai faktor, termasuk apakah kapal

  • beroperasi di wilayah di mana kegiatan penangkapan ikan tidak diperbolehkan;
  • beroperasi di Zona Ekonomi Eksklusif negara-negara anggota lain atau negara-negara ketiga atau air di bawah tanggung jawab Daerah Organisasi Manajemen Perikanan;
  • memegang lisensi yang diperlukan dan kuota untuk ikan di daerah yang relevan.

VMS tidak menggantikan metode pemantauan yang ada, tapi itu membuat mereka lebih efektif dengan memberikan otoritas dengan lokasi kapal yang diduga melakukan pelanggaran, sehingga memungkinkan inspektur pada kapal patroli untuk melakukan pemeriksaan yang ditargetkan di laut. Bahkan ketika pelanggaran diduga tidak segera terdeteksi, penyimpangan masih dapat melihat kemudian di program data cross-check.

Cara Kerja VMS

Perangkat elektronik (transceivers) atau ‘kotak biru’, yang diinstal pada papan kapal. Perangkat ini secara otomatis mengirim data ke sistem satelit yang mengirimkannya ke stasiun tanah dasar yang, pada gilirannya, mengirimkan mereka ke Monitoring Perikanan sesuai Centre (FMC). Pusat control tersebut dapat mengirim pesan yang diperlukan untuk kebutuhan melaut menuju kapal nelayan. Selanjutnya melalui Pusat Kendali ini diharapkan dapat mensosialisasikan lokasi penangkapan ikan, juga dapat memberikan sinyal peringatan atau pengarahan kepada nelayan yang melanggar batas penangkapan ikan. Pada sistem ini seluruh data pada kapal (vehicle) dikumpulkan oleh data logger dan disimpan dalam suatu perangkat memori, kemudian bila ada permintaan dari control centre maka data dikirimkan. Kapal berjumlah banyak sehingga central control harus mengumpulkan data mereka satu per satu.

Adapun kapal yang dilengkapi dengan sistem VMeS yang juga merupakan sistem komunikasi paket data dalam pengoperasiannya memanfaatkan perangkat radio. Untuk itu sistem ini membutuhkan suatu perangkat yang disebut modem. Modem radio yang akan dipakai dalam penelitian ini akan diimplementasikan berupa sistem Software Defined Radio (SDR). Teknologi SDR merupakan suatu sistem komunikasi radio yang dapat mentransmisikan dan menerima sinyal dengan modulasi yang berbeda-beda pada spektrum frekuensi yang lebar menggunakansoftware programmable hardware.

Data dikirim sekali setiap jam atau setiap 2 jam tergantung pada kemampuan teknis dari sistem dan / atau kebutuhan operasional FMC. Namun, jika FMC tidak memiliki kemampuan untuk polling posisi sebenarnya dari kapal penangkap ikan, transmisi data harus dilakukan setiap jam.

Kelemahan Sistem VMS

Sistem yang ada hanya dapat digunakan pada kapal di atas 100 GT. Sedangkan sebagian besar nelayan di Indonesia khususnya Aceh merupakan nelayan tradisional yang memiliki armada di bawah 30 GT. Selain itu, biaya operasional VMS cukup mahal sehingga sulit dijangkau oleh nelayan tradisional (Nainy, 2010).

Alat ini dianggap canggih oleh beberapa pihak, namun masih memiliki kelemahan seperti transmiter yang bisa dimatikan kapanpun oleh pengguna kapal.Jika sudah dimatikan maka tidak akan bisa dipantau.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*