Sekjen Panglima Laut Idi Rayeuk: Daripada Beli Pesawat, Lebih Baik Keruk Muara dan Optimalkan Radar Bakamla

Aceh Watch| Pemerintah Aceh berencana membeli 6 unit pesawat yang telah dilengkapi teknologi Vessel Monitoring System (VMS) atau yang lebih dikenal dengan sistem pemantauan kapal perikanan berbasis sattelit. Rencana yang tercantum dalam Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (RAPBA) tahun 2018 ini menuai kritikan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

Enam unit pesawat tersebut dengan harga Rp 12 miliar harus diorder terlebih dahulu. Untuk mengorder pesawat itu pemerintah Aceh harus membayar uang muka sebesar 30 persen yaitu Rp 4,5 miliar.

Sekjen Panglima Laut Idi Rayeuk, Muhajir Khairum mengatakan, rencana pembelian pesawat tersebut kurang tepat sasaran, karena masih banyak hal lain yang mendesak dibutuhkan pengalokasian dana. Pembelian pesawat itu dinilai pemborosan anggaran di tengah-tengah kemiskinan dan pengangguran masih tinggi di Aceh.

“hari ini persoalan utama kami nelayan adalah kondisi muara yang dangkal, sehingga banyak boat-boat yang tenggelam, berbelitnya pengurusan izin kapal diatas 60GT sehingga banyak kapal yang sering ditangkap patroli laut, bahkan para nelayan di sana ikut menyinggung persoalan pukat trawl yang harus punya solusi dari pemerintah.

Jikapun Irwandi memang benar-benar ingin menjaga laut Aceh, Helikopter sepertinya lebih bagus dibandingkan pesawat, jika dilihat dari fungsinya.
“Helikopter bukan cuma bisa mengawasi, tapi juga bisa digunakan untuk penyelamatan-penyelamatan bencana, pendaratannya juga tidak ribet seperti pesawat yang memerlukan landasan pacu dan biaya hanggar yang mahal” ungkapnya

Sistem VMS yang akan dipasang di pesawat tersebut juga tidak akan terlalu berpengaruh dan bermanfaat.

“sistem yang ada hanya dapat digunakan pada kapal di atas 100 GT. Sedangkan sebagian besar nelayan kita merupakan nelayan tradisional yang memiliki armada di bawah 30 GT. Selain itu, biaya operasional VMS cukup mahal sehingga sulit dijangkau oleh nelayan tradisional, artinya jika nelayan tidak mampu membeli VMS maka alat yang ada dipesawat itu juga tidak berguna” tambahnya.

Muhajir juga memberikan saran kepada Irwandi untuk bisa mengoptimalkan fungsi radar dibeberapa Kamla/TNI-AL, BMKG.

“ Irwandi juga bisa mengoptimalkan radar, dan itu pasti lebih efektif, karena setahu saya pasca tsunami hampir rata-rata radar dijajaran TNI AL sudah sangat canggih” ungkapnya

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*