7 Perilaku kejam yang dilakukan Google sebagai ‘penguasa’ internet!

Perilaku kejam yang dilakukan Google sebagai penguasa internet

1. Praktik monopoli

AcehWatch| Beberapa waktu lalu, Uni Eropa mendenda Google sebesar 2,7 miliar Dollar. Hal ini dilakukan Uni eropa karena Google menyalahgunakan posisinya dalam menguasai pasar Uni Eropa, untuk menutup pesaing dari daftar pencarian Google.

Melansir Wired, pendendaan ini dilakukan Uni Eropa karena Google memprioritaskan Google. Seperti contohnya jika seseorang ingin membaca review, Google menyediakan Google Review. Padahal ada situs seperti Yelp yang sudah sejak lama menjadi situs reviewer. Masalahnya, Yelp tak memiliki search engine sendiri, dan review Yelp bisa masuk di laman ke-empat pencarian Google.

Uni Eropa sendiri berpendapat behal Google berada di puncak kompetisi bukan karena mereka yang terbaik, namun karena secara diam-diam memblokir konsumen dari alternatif yang lebih baik.

2. Menghapus cerita negatif tentang Google

Google diduga gemar untuk menurunkan berita-berita negatif tentang Google. Dalam praktiknya, artikel-artikel yang berkomentar agak miring soal Google akan terkubur di laman-laman terakhir pencariannya.

Melansir Gizmodo, pada tahun 2011 Google bahkan pernah berdiskusi dengan Forbes di mana Google akan tidak memprioritaskan Forbes di peringkat pencarian jika Forbes tidak menampilkan tombol Google Plus untuk membagi kontennya.

3. Sejarah panjang menghindar dari pajak

Di samping sebagai raksasa teknologi dan produsen gadget canggih, Google juga dikenal luas sebagai perusahaan yang abai soal pajak. Selama beberapa tahun terakhir, beberapa negara termasuk Indonesia, berjuang keras untuk menagih pajak dari Google dan bahkan mengancamnya untuk dibawa ke meja hijau.

Di Italia, Google ditagih harus membayar pajak sebesar 303 Juta Euro karena keuntungan Google di Italia dialihkan ke Irlandia karena di sana pajak lebih murah. Di Prancis dan di Spanyol, tahun lalu, kantor Google digrebek dengan kasus serupa. Di Inggris, bahkan ada nilai ratusan juta pondsterling yang diduga masih belum dibayar Google.

Praktik penghindaran pajak ke Irlandia ini juga tanpa masalah, karena diduga tahun lalu Google hanya bayar 42 juta Euro pajak untuk penghasilan sebesar 22 milyar Euro.

Di Indonesia, Google bahkan terindikasi melakukan tindak pidana oleh Ditjen Pajak dan Kemenkeu. Google Indonesia pun menolak diperiksa dengan melakukan pemulangan surat perintah pemeriksaan. Hal ini membuat Menkeu Sri Mulyani turun tangan, dan mengancam membawa kasus ini ke Mahkamah Internasional. Hal ini tak mengherankan karena memang pemasukan untuk Google di Indonesia diperkirakan mencapai 5,5 triliun Rupiah per tahun, dan dalam 5 tahun nilai pajaknya lebih dari 2 triliun Rupiah.

4. Skandal pengiriman obat-obatan

Pada tahun 2003 hingga 2011, Google terbukti melakukan tindakan kriminal di mana perusahaan tersebut mengizinkan perusahaan obat Kanada memasang iklan di sistem mereka yang menarget konsumen Amerika Serikat. Hal ini dilakukan dengan kesadaran bahwa memfasilitasi penjualan obat lintas batas negara adalah hal yang ilegal.

Obat yang dibeli secara sembunyi-sembunyi dari luar Amerika Serikat tidak tercakup oleh FDA, yang merupakan BPOM AS. Kebetulan, Kanada tidak mengatur soal pengiriman obat, dan hal ini sepertinya dimanfaatkan sebagai ‘jalan pintas’ oleh Google untuk menerima pemasukan iklan lebih besar. Masalahnya, hal ini berpotensi berbahaya dan bisa jadi media penyelundupan.

Akhirnya Google dituntut di pengadilan, dan memilih untuk menyelesaikan kasus ini dengan membayar sebesar 500 juta dollar.

5. Kasus DeepMind

DeepMind adalah salah satu anak perusahaan Google yang ingin merevolusi kecerdasan buatan. Namun salah satu permasalahan dari DeepMind adalah kebutuhan untuk memiliki jumlah data besar untuk dipelajari. Untuk itu, pada 2015 lalu Google mendapat banyak sekali data mentah, namun dari cara yang mencurigakan.

Ternyata, Google yang bekerja sama dengan rumah sakit Royal Free Trust di London, mendapat data kesehatan dari 1,6 juta orang tanpa persetujuan mereka.

TechCrunch menyebut bahwa Google dan DeepMind punya motif tertentu atas ‘pencurian’ ini. Meski demikian, atas nama DeepMind, Google merilis permintaan maaf.

6. Skandal pelanggaran privasi

Di tahun 2010, Google mulai mendorong pengembangan aplikasi Street View, dan gencar mengirim mobil Street View mereka ke kota-kota di seluruh penjuru dunia. Salah satu rencana untuk Street View adalah informasi tentang titik akses Wi-Fi, dan mobil Google secara otomatis mengumpulkan titik-titik tersebut.

Terdengar tak berbahaya memang, namun melansir Naked Security, ternyata Google menjadi jaringan yang mengendalikan server-server Wi-Fi tersebut. Dalam dunia hacking, hal ini disebut sniffing. Hal ini cukup berbahaya, di mana Google bisa tahu apa yang kita kirimkan melalui koneksi tersebut. Jadi, singkat kata, Google tiba-tiba jadi perusahaan yang mengetahui seluruh data privasi orang di seluruh dunia.

Ini jadi skandal besar. Google bahkan berbohong soal perilaku ini dan menolak berkoordinasi dengan yang berwajib. Oleh karena itu, Prancis mendenda 100.000 Euro karena ini, dan FTC, badan perlindungan konsumen AS, mendenda Google sebesar 25.000 dollar. Australia menyebut Google telah melakukan pelanggaran privasi terbesar sepanjang sejarah.

7. Google pernah jadi pemicu perang

Pada bulan November 2010, Kosta Rika dan Nikaragua penah hampir berperang karena serangan Nikaragua ke wilayah Kosta Rika. Penyebabnya? Google Maps.

Dilansir dari Telegraph, Google secara tidak sengaja menempatkan perbatasan yang merupakan wilayah sengketa antar dua negara tersebut, masuk beberapa kilometer ke wilayah Kosta Rika. Karena ini, seorang komandan Nikaragua membawa pasukannya ke Kosta Rika yang memicu perang.

Perang akhirnya tak terjadi. Namun New York Times menulis bahwa Google secara sadar mengabaikan perselisihan perbatasan yang masih sangat rentan dan aktif, dan punya dampak di dunia nyata.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*