Hikayat Prang Sabi di Mata Orang Belanda

Henri Titus Damste, ahli bahasa dan sastra Aceh asal Belanda

Aceh Watch| Hikayat Prang Sabi sebagai media dakwah yang sanggup membangkitkan semangat perang dan jihad fi sabilillah untuk melawan serdadu-serdadu alat kolonial Belanda, dipandang oleh pimpinan tentara dan pentadbiran pemerintahan militer Hindia Belanda senjata yang sangat berbahaya, sehingga hikayat ini dilarang untuk membacanya, menyimpan, dan mengedarkannya.

Ini adalah suatu hal yang jelas!

Tetapi, Hikayat Prang Sabi di mata sarjana dan sastrawan Belanda lain pula halnya.

Karena Hikayat Prang Sabi sanggup membangkitkan keberanian luar biasa dalam hati rakyat Aceh, maka hal tersebut menarik perhatian sejumlah sarjana Belanda untuk meneliti dan mempelajarinya, terutama mereka yang ahli dalam bahasa Aceh. Salah seorang di antara sarjana Belanda yang menaruh perhatian sangat besar terhadap Hikayat Prang Sabi adalah Prof. Dr. Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936), seorang ahli Aceh dalam arti yang sangat luas.

Tentang ketinggian nilai sastra Hikayat Prang Sabi sebagai sebuah karya sastra perang telah dipelajari dan diteliti secara mendalam oleh sejumlah sastrawan Belanda, tentunya sastrawan Belanda yang ahli bahasa Aceh.

Seorang ahli bahasa dan sastra Aceh, H. T. Damste, yang pernah menjadi Controleur di Idi Aceh Timur, telah membahas Hikayat Prang Sabi dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanada, yang disiarkan dalam Bijdragen Tot de Taal—Land—en Volkenkunde van Nederlandsech—Indie Deel 84, yang diterbitkan di negeri Belanda oleh Het Koninklijk Instituut voor de TaaiLand—en Volkenkunde van Nederlandsch—Indie. Uraian H.T. Damste tersebut telah menarik perhatian yang luas di negeri Belanda dan dalam lingkungan ahli-ahli sastra dunia.

Karena itu, H.T. Damste telah berjasa memperkenalkan karya sastra Hikayat Prang Sabi kepada dunia Barat, sehingga ia telah menjadi salah satu bacaan wajib bagi para mahasiswa Fakultas Sastra Jurusan Sastra Aceh di Negeri Belanda, dan juga menjadi perhatian para mahasiswa Fakultas Sastra pada umumnya.

***

Untuk menghadiri Hari Pendidikan Daerah Istimewa Aceh dan Hari Jadi Universitas Syiah Kuala pada tanggal 2 September 1977 yang lalu, Gubernur/Kepala Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, telah mengundang sejumlah orang-orang terkemuka dalam Dunia Pendidikan untuk menghadirinya, termasuk dua orang Sarjana Belanda yang sangat terkenal, yaitu Dr. A.J. Piekaar dan Prof. Dr. A. Teuw, seorang ahli bahasa dan sastra Indonesia, pengarang buku Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru.

Dr. A.J. Piekaar yang di negeri Belanda dewasa ini mendapat predikat “Paus Ilmu Pengetahuan”, pernah tinggal di Aceh sebagai alat dari Pemerintah Hindia Belanda; mula-mula menjadi Aspiran

Controleur di Langsa; kemudian menjadi Controleur di Idi, Singkil, dan Sigli; terakhir sekali menjadi Sekretaris Keresidenan Aceh sampai masuk balatentara Jepang dan ditawan bersama orang-orang Belanda yang lain. Selama dalam tawanan, Dr. A.J. Piekaar telah mengarang sebuah buku yang sangat bernilai, yaitu Aceh en de Oorlog Met Japan, sebuah buku tentang Aceh yang ditulis oleh bekas musuh orang Aceh.

Dalam Ensiklopedia Islam yang besarnya puluhan jilid, yang diterbitkan dalam bahasa Inggris, Perancis, Arab dan lain-lain, Dr. A.J. Piekaar telah menulis tentang Aceh hampir 20 halaman banyaknya.

Di Negeri Belanda dewasa  ini, Dr. A.J. Piekaar dikenal sebagai seorang Pencinta Aceh.

Dr.  A.J. Piekaar dan Prof. Dr. A. Teuw datang ke Aceh pada tanggal 2 September 1977 yang lalu bersama-sama dengan nyonyanya masing-masing, memenuhi undangan Gubernur Aceh.

Prof. Dr.A. Teuw di Banda Aceh, antara lain telah memberi ceramah  di depan para sarjana IAIN Jami’ah Ar Raniry Darussalam.

Dr. A.J. Piekaar mendapat tugas untuk membaca orasi ilmiah dalam Rapat Senat Terbuka Universitas Syiah Kuala; orasi ilmiah mana berjudul Pengetahuan dan Masyarakat.

Dalam orasi ilmiahnya itu, dengan sengaja Dr. A.J. Piekaar membicarakan sedikit tentangHikayat Prang Sabi, yang antara lain ditulisnya sebagai berikut:

“ ……. kita merasa berbahagia bahwa bagi Aceh sebagai bahagian dari Indonesia Merdeka tidak ada alasan lagi untuk prang sabi dan kita harap akan tumbuh pertalian-pertalian baru sehingga kita berhubungan antara kita pada taraf yang sama, sebagai berlaku pada saat sekarang ini. Sebagai lambang penutup periode ini, izinkanlah saya menyampaikan pada

Rektor Universitas Syiah Kuala dan Rektor Institut Agama Islam Negeri Jami’ah Ar-Raniry satu

Hikayat Prang Sabi, sebagai yang telah diterbitkan oleh H.T. Damste, seorang ahli terkenal mengenai Aceh, pada tahun 1928 dalam jilid 84 Bijdragen van het Konijnklijk Instituut voor de

Taal-en Volkenkunde.

Penyelidikan Hikayat Prang Sabi ini bukan perkara baru bagi tuan-tuan. Pada tahun 1971, Ali Hasjmy menerbitkan Hikayat Prang Sabi Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda dengan kata pengantar Gubernur Aceh. Melihat perhatian ini saya harap agar penerbitan itu, tidak sebagai alat menaikkan semangat perang, tetapi sebagai dokumen sejarah, kenang-kenangan akan periode yang semua kita harap sudah ditutup erat-erat, dan akan mendapat tempat dalam perpustakaan kedua institute tuan …….”.

Demikian Dr. A.J. Piekaar tentang Hikayat Prang Sabi dalam orasi ilmiahnya yang berjudulPengetahuan dan Masyarakat yang disampaikan dalam RRapat Senat Terbuka Universitas Syiah Kuala pada tanggal 2 September 1977 di Banda Aceh.

Dari kesan Dr. A.J. Piekaar tersebut di atas, kita masih dapat merasakan betapa besar pengaruhHikayat Prang Sabi di mata orang Belanda pada umumnya, dalam membangkitkan semangat rakyat Aceh untuk melawan tentara kolonial Belanda.

Selesai penyampaian orasi ilmiah yang panjangnya lebih dari satu jam, Dr. A.J. Piekaar dengan resmi menyerahkan kepada Rektor Universitas Syiah Kuala dan Rektor IAIN Jami’ah Ar-Raniry masing-masing satu eksemplar Hikayat Prang Sabi yang telah diberi analisa dan disalin ke dalam bahasa Belanda oleh seorang ahli Aceh, H.T. Damste. []

Cuplikan tulisan di atas disadur dari buku “Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi Belanda” karya Ali Hasjmy. Buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang Jakarta, tahun 1977. Adapun cuplikan tulisan tersebut diketik ulang mulai halaman 19-22 dengan sedikit penyesuaian.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*