Rudal-rudal Korut Bergerak Diduga untuk Merespons Manuver AS

Military vehicles carry missiles with characters reading 'Pukkuksong' during a military parade marking the 105th birth anniversary of North Korea's founding father, Kim Il Sung, in Pyongyang, April 15, 2017. REUTERS/Sue-Lin Wong

Aceh Watch|Sejumlah peluru kendali (rudal) Korea Utara (Korut) terpantau “bergerak” dari hanggarnya di dekat Pyongyang. Pemindahan senjata-senjata itu diyakini sebagai persiapan Pyongyang untuk merespons manuver militer Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di Semenanjung Korea.

Pergerakan rudal-rudal militer rezim Kim Jong-un itu terpantau satelit mata-mata AS pada hari Jumat.

Data satelit itu membuat badan intelijen Amerika dan Korea Selatan bersiap dengan strateginya jika rezim Kim Jong-un benar-benar melakukan provokasi baru.

Pemerintah Seoul awalnya khawatir Pyongyang akan meluncurkan rudal-rudalnya pada 10 Oktober bertepatan dengan ulang tahun Partai Buruh, partai berkuasa di Korut. Namun, kekhawatiran itu tidak terbukti.

Kendati demikian, rasa waswas Korea Selatan belum reda, karena pekan depan China menggelar konferensi ke-19 Partai Komunis. Momen itu dikhawatirkan dimanfaatkan Pyongyang untuk meluncurkan senjatanya meski dalam aksi uji coba.

Citra satelit mata-mata AS menunjukkan bahwa rudal-rudal yang digerakkan atau dipindahkan salah satunya diduga rudal balistik antarbenua (ICBM).

“Korea Utara dapat melakukan peluncuran ICBM dan IRBM (rudal balistik jarak menengah) secara bersamaan dalam beberapa hari sebagai protes terhadap pertunjukan militer AS,” tulis surat kabar Korea Selatan, The Dong-A Ilbo, mengutip sumber militer terkait, Sabtu (14/10/2017).

Dalam sepekan ini, Washington telah melakukan manuver militer di kawasan Semenanjung Korea dan sekitarnya. Pada Selasa malam lalu, misalnya, dua pesawat pembom supersonik Angkatan Udara AS, B-1B, diterbangkan di atas Semenanjung Korea, meski ada ancaman dari Korea Utara untuk menembak jatuh pesawat Amerika.

Pada keesokan harinya, Rabu, giliran kapal induk bertenaga nuklir AS, USS Ronald Reagan, dan armada tempurnya melakukan latihan gabungan dengan kapal perang Jepang di dekat Semenanjung Korea.

Sebagai tanggapan dari manuver Washington itu, pemerintah Kim Jong-un mengeluarkan ancaman terbaru untuk menyerang Guam, kepualauan di Pasifik yang jadi pangkalan militer Washington.

Kepala Staf Gedung Putih John Kelly mengakui bahwa ada ”kekhawatiran besar” terkait nasib orang-orang Amerika yang tinggal di Guam.

“Saat ini kami pikir ancaman itu bisa diatur. Mari berharap pada kerja diplomasi,” katanya dalam konferensi pers di Gedung Putih, yang dilansir Reuters.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*