Indonesia Kecam Langkah Trump Akui Yerusalem Ibu Kota Israel

Aceh WatchI ndonesia mengecam langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang secara resmi mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi  dalam pidatonya saat membuka Bali Democracy Forum di Serpong, Banten, Kamis (7/12).

“Pagi ini, Presiden Trump mengumumkan pengakuannya terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Kami mengecam pengakuan ini,” kata Retno dihadapan 103 negara partisipan termasuk AS.

“Demokrasi berarti menghormati hukum internasional. Pengakuan itu tidak menghormati berbagai resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa. Sebagai sebuah negara demokratis, AS seharusnya mengetahui apa artinya demokrasi,” kata Menlu RI menegaskan.

Menlu RI menyampaikan kecaman tersebut sambil mengenakan syal khas Palestina. “Saya berdiri di sini mengenakan scarf Palestina untuk menunjukkan komitmen kuat Indonesia, rakyat Indonesia untuk selalu bersama rakyat Palestina, dan hak-hak mereka,” kata Menlu Retno.

Pernyataan keras ini diungkapkan Retno tak lama setelah Trump mengumumkan secara resmi pengakuan AS terkait Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Rabu siang waktu Washington DC, di Gedung Putih.

Dalam pernyataannya, Trump memerintahkan pemindahan segera kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem sebagai simbol resmi bahwa AS mengakui kota itu sebagai ibu kota Israel.

Meski dikecam banyak negara di dunia seperti negara Arab dan sekutu utama AS seperti Perancis, Trump berkeras melanjutkan keputusannya itu.

Trump bahkan menyebut langkah ini sepatutnya sudah dilakukan oleh pendahulunya karena berlandaskan pada satu undang-undang yang sudah diloloskan oleh Kongres AS sejak 1995.

Hukum itu mengatur pengakuan AS bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel dan mengesahkan pendanaan pemindahan kantor Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke kota tersebut.

Namun, presiden AS sebelum Trump selalu menangguhkan hukum tersebut demi menghindari pergolakan politik di Timur Tengah.

Sebelumnya Retno mengatakan telah berkomunikasi dengan sejumlah menlu negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) termasuk menlu Palestina untuk merespons perubahan sikap AS ini.

Retno mengatakn OKI akan segera menggelar rapat darurat guna membahas keputusan Washington yang dianggap memperkeruh konflik di Timur Tengah khususnya proses damai antara Israel dan Palestina.

“Kami juga terus berupaya berkomunikasi dengan pihak AS seperti dengan Menlu Rex Tillerson terkait hal ini,” kata Retno.

Menlu Tunisia Khemaies Jhinaouwi, juga turut mengecam langkah AS tersebut. Dalam pidatonya, Jhinaouwi juga mengatakan pengakuan AS terhadap Yerusalem dapat merusak proses perdamaian antara Israel dan Palestina.

“Langkah ini berimbas dampak negatif terhadap opini umat Islam dan Kristen terkait pentingnya Yerusalem bagi mereka,” papar Jhinaouwi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*