Test The Water, Duet Jokowi Dan Cak Imin

Aceh Watch| Mengawali tahun 2018, Jokowi tiba-tiba mengajak Muhaimin Iskandar yang akrab disapa Cak Imin, untuk meresmikan Integrated Building ( Kereta ) Bandara Soetta. Mereka berdua terlihat sangat akrab dalam prosesi peresmian itu, dari Bandara Soetta sampai Stasiun Sudirman Baru, bahkan di dalam kereta mereka duduk berdampingan, dan terlihat sesekali bercanda.

Dikutip dari Tempo (2/1), Jokowi mengaku menelpon Muhaimin, mengajaknya bertemu di bandara.

“Saya dengan beliau ini lama enggak ketemu. Terus kemarin saya telepon, Saya ajak di bandara saja, sambil naik kereta bandara,” kata Jokowi di Stasiun Sudirman Baru, Jakarta Pusat.

Dalam dunia politik ada sebuah adagium yang masyhur“ tidak ada makan siang gratis”, begitu pula agenda peresmian kereta bandara yang tiba-tiba Jokowi mengundang Cak Imin tentu bukan tanpa alasan. Apalagi ini adalah momen pembuka tahun 2018, yang notabene adalah tahun politik. Patut kita duga, mantan Gubernur DKI itu sedang menyisipkan pesan kepada masyarakat. Lalu kira-kira apa pesan yang sedang disisipkan oleh Jokowi dalam pertemuanya dengan Cak Imin itu?

Apakah ini adalah langkah “test the water” dari Jokowi, untuk mengetahui bagaimana respon masyarakat, bila namanya di duetkan dengan Cak Imin di Pilpres 2019 nanti? Patut diduga, itu adalah pesan yang di sampaikan oleh Jokowi. Untuk menelisik lebih dalam, tulisan ini akan mencoba untuk menganalisanya pelan-pelan.

Hasil Survei Partai Kebangkitan Bangsa 

Bicara mengenai dinamika politik nasional, tidak akan lepas dari partai politik. Dalam iklim demokrasi Indonesia, parpol menjadi kendaraan yang sah untuk mendistribusikan pemimpin di pemerintahan. Dalam hal ini Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sebagai kendaraan politik, dimana Cak Imin adalah nahkodanya, seberapa kuat daya tawar PKB untuk membawa Cak Imin, sehingga pantas di sandingkan dengan Jokowi di Pilpres 2019.

Dikutip dari news.detik.com, (26 November 2017), survey Poltrecking Indonesia, hasilnya menempatkan PDIP sebagai yang teratas dengan 23,4 %, dan menyusul secara berurutan, Gerindra 13,6 %, Golkar 10,9 %, PKB 5,1 %, Demokrat 4,2 %, NasDem 3,0 %, PKS 2,6 %, PAN 2,1 %, PPP 2,1 % Perindo 1,3 %, Hanura 0,7 %, PSI 0,7 %, PBB 0,2 %, dan PKPI 0,0 %. Sedangkan yang tidak menjawab atau tidak tahu 28,8 %. Poltrecking Indonesia melakukan survey ini mulai 8-15 November 2017. Survey ini menggunakan metode stratified multistage random dengan 2400 responden minimal 17 tahun atau sudah menikah dengan margin eror +/- 2 % pada tingkat kepercayaan 95 %.

Bila melihat survey yang dilakukan di akhir 2017 ini, standing position PKB cukup kuat. Bisa dilihat PKB menempati urutan teratas, diantara Partai-partai berbasis masa religius. Sehingga bisa dikatakan PKB menjadi representasi dari mayoritas pemilih dari masa religius. Terlepas memang masih ada variabel lain untuk mengatakan suatu partai bisa menjadi representasi masa religius itu sendiri.

Namun berangkat dari survey tadi, minimal PKB punya bekal diantara banyaknya variabel yang ada. Standing position ini menjadikan Cak Imin pantas untuk mendampingi Jokowi yang merupakan representasi dari kalangan Nasionalis. Dan kita tahu bersama bahwa komposisi nasional – religius sedang menjadi komposisi yang lagi laku di pentas Politik Nasional sekarang ini.

Dukungan standing position PKB untuk membawa Cak Imin menjadi pendamping Jokowi untuk Pilpres 2019, di dukung dengan pandangan beberapa pengamat politik. Salah satunya adalah pengamat politik dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), J Kristiadi, dikutip dari news.liputan6.com (08 Desember 2017), dia mengatakan bahwa, “ peluang Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, mendampingi Jokowi di Pilpres 2019 sangat terbuka.

Pasalnya, menurut dia, Jokowi memerlukan seseorang yang dekat dengan Islam. Sehingga masuk akal jika Jokowi menggandeng Muhaimin. Menurutnya pula, Jokowi bisa saja menggandeng tokoh dari Partai Islam seperti PAN dan PPP. Namun, sosok Nahdiyyin atau dari NU lebih tepat mendampingi jokowi.

Meski dari dua segi tadi, relevan dengan ide menyandingkan Cak Imin dengan Jokowi, namun ada fakta lain yang cukup menarik. Yakni, bahwa dalam salah satu survey yang dilakukan hampir bersamaan dengan survey di atas tadi, Cak Imin tidak masuk dalam simulasi pasangan Capres-Cawapres 2019 versi Indo Barometer.

Dikutip dari nasional.sindonews.com ( 03 Desember 2017), simulasi yang muncul sebagai kandidat Cawapres dari Jokowi dan Prabowo versi Indo Barometer adalah nama-nama lain di luar Cak Imin. Nama-nama yang muncul yakni, Gatot Nurmantyo, Anis Baswedan, Tito Karnavian, Budi Gunawan, Agus Harimurti Yudhoyono, Puan Maharani, Dan Mueldoko.

Bila dilihat dari sisi positif, apsenya nama Cak Imin di simulasi survey tadi, mungkin menjadi salah satu alasan Jokowi untuk melontarkan nama Cak Imin ke publik dengan mengajak Cak Imin di peresmian kereta tadi. Dan bisa dipastikan bahwa media akan menyorot hal ini, lalu setelah itu akan sampai ke publik. Selanjutnya di mungkinkan pula, nama Cak Imin akan masuk dalam simulasi-simulasi survey selanjutnya, dengan begitu bisa dilihat seberapa tinggi survey bila Jokowi di duetkan dengan Cak Imin.

Terlebih mesin politik PKB di daerah nampaknya serius untuk mendorong Cak Imin menjadi Cawapres. Terbukti sudah banyak baliho yang terpampang di sudut-sudut Kota di Indonesia. Bahkan di beberapa daerah, kelompok-kelompok masyarakat juga sudah mendeklarasikan Cak Imin sebagai Cawapres 2019. Hal ini akan semakin mendukung tersosialisasikanya nama Cak Imin.

Muda, Pengalaman, dan Satu Visi Menjaga NKRI 

Kalau di analisis lebih lanjut, sepertinya tidak salah bahwa Jokowi memang telah memberi sinyal untuk mensosialisasikan Cak Imin ini. Karena Cak Imin ini adalah tokoh yang komplit. Diusianya yang masih muda, Cak Imin telah telah dipercaya dan sukses menahkodai PKB, membawa PKB dari saat terbelah dan terpuruk sampai sekarang menjadi partai yang punya elektabilitas cukup tinggi dan di segani.

Dari sisi pengalaman, tidak diragukan lagi. Sejak masa kuliah telah menjadi Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Jogja, dan berlanjut memimpin pucuk pimpinan Pengurus Besar. Cak Imin juga pernah menjadi anggota legislatif, sebagai Ketua Fraksi PKB DPR RI. Tidak sampai di situ saja, ia juga masuk kabinet Susilo Bambang Yudoyono, sebagi Menteri Tenaga Kerja.

Dan yang paling penting Cak Imin ini satu visi dalam menjaga NKRI. Berhaluan Islam moderat, yang juga berjiwa santri, membuat tidak diragukan kecintaanya terhadap NKRI. Latar belakang santri juga akan berguna bagi Jokowi untuk menghalau isu PKI yang sering di tujukan kepada Jokowi. Secara kelembagaan, ketika Jokowi menerbitkan Perppu ormas untuk membubarkan ormas beridiologi kontra NKRI, Cak Imin mem-back upkeputusan Jokowi.

Artikel yang dimuat dirubrik warga menulis ini ditulis oleh Arif Hidayat Penulis, Blogger, Aktivis Sosial Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Yogyakarta

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*