BERITA DAERAH

Membantu Pasukannya Dengan Cara Memotong Logistik Kursi Mayoritas

Aceh Watch| Alkisah disebuah republik warung kopi, hiduplah seorang raja yang merasa superior. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, dia merasa mampu melakukan apapun yang diinginkannya. Tak ada satupun yang mampu menghalanginya.

Hingga pada suatu waktu, mulailah dia memerintahkan bawahannya untuk mencatat daftar keinginannya dan mengajukan kepada Dewan Warung Kopi.

Ketika para bawahan usai mencatat daftar keinginan rajanya selesai dibuat. Mereka pun mendatangi Dewan Warung Kopi. Dengan sumringah dan percaya diri para bawahan raja merasa semua keinginan Raja akan dipenuhi. Ternyata semua yang mereka pikirkan salah. Dewan menolak keinginan si Raja. Dan pusinglah para bawahan tersebut.

Usai ditolak, para bawahan pun melapor kepada sang Raja soal penolakan daftar keinginan Raja oleh Dewan.

Rajapun kaget dan marah. Ingin rasanya dia mendatangi gedung tersebut dan memaki-maki para wakil rakyat warung kopi. Tapi semua itu tak mampu dilakukannya. Akhirnya dia sadar bahwa dizaman Now ini, tidak ada suatu kekuasaan yang absolut.

Dia memang berkuasa di kerajaan warung kopi, namun dia tak berkuasa didewan warung kopi. Raja  tak memilki suara mayoritas di gedung dewan, karena tidak memiliki kursi mayoritas.

Raja pun akhirnya sadar, agar semua keinginannya terpenuhi ia harus menguasai kursi mayoritas di Dewan Warung Kopi pada 2019 ini.

Diutuslah para bawahannya untuk merebut kursi mayoritas itu pada 2019 mendatang. Namun merebut kursi mayoritas bukanlah hal mudah. Dengan bawahan yang berfigur pas-pasan dan logistik yang kecil tentu bukanlah kompetitor yang tangguh untuk melawan incumbent yang sudah populer dan memiliki logistik besar.

Sirajapun akhirnya berpikir secara pelandok. Untuk meringankan kerja bawahannya ia harus menghambat logistik incumbet tersebut.

Dihadanglah kopi aspirasi yang didapat Dewan tersebut, agar bawahannya memiliki logistik yang seimbang dengan Dewan tersebut ketika berkompetisi.

Dewan yang mengetahui hal tersebutpun marah, merekapun menolak setiap keinginan sang Raja. Dan akhirnya kegaduhan terjadi di kerajaan warung kopi. Rakyat warung kopi menjadi marah, karena yang merasa sebagai kelompok yang paling dirugikan.

Mengetahui rakyatnya marah, Raja pun mulai ketakutan. Dia takut politik potong kakinya untuk merebut kursi mayoritas ketahuan. Mulailah dia kembali menggunakan akal bulusnya untuk menutupi cara curangnya kepada pasukan 2019 pendukungnya. Dibuatlah berbagai pembenaran. Seakan-akan kopi aspirasi tidak disetujui karena sering digunakan untuk membeli Teh. Seakan-akan semua keterlambatan itu demi rakyat, bukan demi pasukannya menjadi suara mayoritas. Pasukan yang akan membantunya mencapai keinginannya kelak.

Tulisan yang dimuat dirubrik warga menulis ini dikirim oleh Putra,Warga Aceh Barat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *