Cari Gadis Suku Orang Rimba, BBC Ungkap Hancurnya Hutan oleh Sawit

Aceh Watch| Chris Packman menemukan sekelompok pemburu lokal di hutan hujan tropis Sumatra, 20 tahun yang lalu. Dia merupakan orang kulit putih kedua yang pernah dilihat suku Orang Rimba.

Tapi warga suku dengan senang hati membiarkannya memotret mereka. Satu foto tentang seorang gadis kecil berusia sekitar enam tahun, telah menghantuinya selama dua dekade terakhir.

Sejak tahun 1998, dia tidak pernah berhenti bertanya-tanya apa yang terjadi dengan gadis kecil dari suku Orang Rimba yang hidup polos dalam harmoni total dengan alam.

”Mereka lestari, mereka sepenuhnya terhubung dengan hutan itu, mereka tidak terlalu memanfaatkannya, mereka tidak merusaknya, mereka memahaminya dan merupakan bagian intrinsik dari ekologi,” kata Chris.

Cerita itu membuat bos BBC, media terkemuka Inggris, tertarik mengirim penyiar televisi berusia 56 tahun itu kembali sebuah ”petualangan besar” untuk sebuah proyek dan Chris tahu persis apa akan dia lakukan.

Setahun setelah kunjungannya perdananya, Chris mendengar beberapa warga suku telah dibunuh oleh kelompok penjarah atau pencuri. Namun, tidak ada yang bisa mengatakan dengan pasti siapa, atau bahkan berapa banyak, yang telah terbunuh. Chris merasa harus mencari tahu apakah gadis kecil di foto itu selamat.

Tanpa petunjuk tentang identitas atau keberadaan gadis itu, selain foto aslinya, Chris berangkat ke Sumatra untuk mencoba menemukannya. Dia membuat sebuah dokumenter dari pencariannya, untuk diputar pada hari Minggu (28/1/2018).

Salah satu kekhawatirannya adalah bahwa penggundulan hutan yang meluas di wilayah Indonesia akan mengakhiri nomaden suku Orang Rimba.

Setelah tiba, Chris mendapati jutaan hektare hutan hujan tropis telah dihancurkan oleh perkebunan kelapa sawit.

Kondisi itu membuat suku Orang Rimba tersisih ke tepi hutan. Warga suku itu mulai menjual buah ke penduduk desa dan menukarkan uang tunai dengan perhiasan emas. Seorang periset kemudian menemukan sebuah persembunyian para pencuri yang membunuh dua pria, tiga wanita dan dua anak.

Periset itu khawatir gadis di foto Chris itu tewas karena ayahnya termasuk di antara para korban.

Tapi kemudian munculah terobosan dari upaya pencarian yang dilakuakan Chris. Penduduk setempat telah menemukan nama masa kecil gadis itu, Sumping Tependung. Seorang penerjemah Chris menemukan gadis itu masih hidup.

Tapi, Chris mengatakan bahwa dia tahu bahwa tidak semua kabar yang dia terima baik. Chris kemudian dibawa untuk menemui gadis yang dia cari.

”Saya tahu dari mana kami tinggal, di sebuah hotel di kota, bahwa dia tidak akan berada di hutan,” katanya. “Menemukannya hidup dan sehat itu brilian dan dia mempertahankan keindahan alam itu.”

Tapi kamp yang ditemukannya, di bawah terpal biru, berada di tepi perkebunan kelapa sawit.

”Mereka tinggal di neraka,” kata Chris.”Di antara hal-hal yang menghancurkan mereka,” katanya lagi.

”Saya pikir itu benar-benar memilukan. Ini sangat menghancurkan, tidak ada kata lain untuk itu. Di hati saya, saya tahu ketika saya pergi ke sana saya meminta masalah,” ujar Chris.

Tapi, sepanjang jalan, saat dia mencari gadis itu di dalam suku lain, dia bertemu dengan keluarga yang masih berusaha untuk menemukan keberadaan para pemburu lokal. Dalam perjalananannya, Chris terkesan dengan seorang anak muda lokal bernama Njarang.

”Dia menjalani hidup, cukup banyak  yang dia lakukan. Kami berjalan melalui hutan selama dua jam dan dia berkelok-kelok di sepanjang jalan bertelanjang kaki, menemukan makanan, memakannya, memanjat pohon, melompat ke tanaman merambat yang runcing,” tutur Chris.

”Ada beberapa anak di dunia yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan kebebasan untuk tinggal di lingkungan mereka. Jadi ada sisa harapan. Saya sedang mencari-cari untuk menemukannya setelah kengerian didapati dia tinggal di kamp kumuh di perkebunan sawit,” lanjut Chris.

Chris akhirnya bertemu dengan Sumping, yang sekarang sudah menikah dengan pria beranak tiga. Sumping merasa sangat malu, mungkin karena wanita suku hanya diizinkan bertemu dengan pria jika sang suami berada di sampingnya.

”Seandainya saya menjadi wanita, saya bisa bertemu dengannya tanpa suaminya berada di sana dan semuanya mungkin sedikit lebih bebas mengalir,” katanya.

Menurut Chris, Sumping lebih terbuka saat kamera dimatikan.

”Ketika kami tidak syuting dan dia pergi dengan teman-temannya, dia sangat gembira dengan hadiah yang kami berikan kepadanya dan dia sangat suka jadi pusat perhatian,” papar Chris.

”Rasa malu yang dipaksakan berasal dari kenyataan bahwa dia biasanya tidak memiliki kontak dengan pria mana pun, apalagi beberapa pria Inggris aneh yang datang jauh-jauh dari penjuru dunia untuk menemukannya,” ujarnya.

Chris percaya bahwa pembunuhan yang menghancurkan suku Orang Rimba disebabkan oleh penggundulan hutan, yang membuat mereka bergerak mendekati peradaban.

”Minyak kelapa sawit adalah yang memengaruhi orang-orang ini dan ini tentang konsumsi kita, apa yang Anda atau saya beli di supermarket. Jadi kita memiliki dampak yang mendalam,” katanya.

Dia percaya, bukan sekadar berusaha menghindar produk kelapa sawit saja, tapi diperlukan tindakan yang lebih drastis untuk memastikan masa depan dari bagian yang berharga di planet ini.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*