PDI-P dan Gerindra Keteteran di Pilkada Jabar

Bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat TB Hasanuddin (kiri) dan Anton Charliyan (kanan) mengepalkan tangan saat pengumuman cagub-cawagub PDIP di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (7/1). PDIP resmi mengumumkan para cagub dan cawagub enam provinsi yakni provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur pada Pilkada 2018. ANTARA FOTO

Aceh Watch| Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J Vermonte melihat, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDI-P) dan Partai Gerindra cukup keteteran di Pilkada Jawa Barat (Jabar).

Pasalnya, berdasarkan survei Cyrus Network terbaru, suara calon pemilih mengelompok pada pasangan Ridwan Kamil-Uu R Ulum (45,9 persen) dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (40,9 persen).

“Sementara calon yang diusung PDI-P kecil sekali (perolehan suaranya), demikian juga calon yang diusung Gerindra,” kata Philips dalam paparan survei opini publik Cyrus Network, Jakarta, Senin (5/2/2018).

Pasangan calon yang diusung PDI-P, yaitu TB Hasanuddin-Anton Charliyan, dan Gerindra, yakni Sudrajat-Ahmad Syaikhu, memiliki tingkat keterpilihan yang sangat rendah, masing-masing 2,5 persen dan 5 persen.

“Ini menurut saya ironi besar dua calon yang diusung dua parpol terbesar di Jabar,” kata Philips.

Dia menambahkan, hasil survei tersebut setidaknya menunjukkan bahwa kedua parpol terlambat dalam mengusung pasangan calon atau kalah cepat dibandingkan partai-partai lainnya.

“Jadi, PDI-P dan Gerindra menurut saya mulai pilkada Jabar ini agak keteteran dari parpol lain. Akibatnya, PR berat sekali untuk calon yang diusung PDI-P dan Gerindra,” kata Philips.

Selain itu, hasil tabulasi silang antara elektabilitas dan pilihan partai politik menunjukkan bahwa soliditas pemilih PDI-P dan pemilih Gerindra sangat rendah dibanding partai-partai pengusung Ridwan Kamil-Ulum.

“Pemilih PDI-P dan Gerindra malah memilih paslon lain yang tidak diusung PDI-P dan Gerindra,” kata Philips.

“Ini menurut saya PR besar  karena partainya kelihatan tidak siap menyiapkan calonnya untuk pilkada Jabar yang demikian penting,” lanjut Philips.

Meski demikian, dia melihat masih ada waktu lima bulan lagi untuk mengerek tingkat keterpilihan. Apalagi, tingkat kemantapan responden dalam survei opini publik ini baru 30,3 persen.

“69,7 persen bilang pilihannya masih bisa berubah. Masih goyah. Dan pemilih Jabar adalah pemilih yang paling mudah pindah ke lain hati,” katanya.

Dia menyebutkan, pemilihan legislatif 1999 Jabar dimenangkan oleh PDI-P, tapi pada 2004 dimenangkan oleh Golkar. Pada 2009, Jabar dimenangkan oleh Demokrat, dan pada 2014 dimenangkan oleh Gerindra.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*