Generasi Tanpa Kantor

Aceh Watch| Pengangguran. Satu kata itu pernah disematkan kepada saya—yang kegiatannya hanya berdiam diri di rumah. Mereka pikir, saya tidak bekerja. Mereka pikir saya hanya menjalani siklus bernapas, makan, tidur, dan berak. Tak ada yang lain. Padahal yang saya lakukan di dalam rumah juga kerja yang menghasilkan penghasilan. Ada uang yang setiap bulan masuk ke dalam rekening saya.

Siklus kerja seperti itu saya lakoni setelah setahun sebelumnya keluar dari pekerjaan pada sebuah industri perbankan. Saya merasa tidak cocok dengan lingkungan yang begitu kaku, rekan kerja yang culas, dan atasan yang hobinya marah melulu. Ketika itu saya menjalani rutinitas layaknya robot—tetapi masih bisa saja menggerutu.

Hari-hari berlalu dengan dingin tanpa makna. Rasanya juga tak ubahnya kuda dalam kuasa tali kekang seorang kusir. Bekerja menjadi beban yang menyebalkan.

Bahkan, sampai saya memutuskan untuk resign pun, nuansa menyebalkan itu masih saja menggelayuti. Sang atasan masih saja sempat mengomeli saya. Ada satu perkataan darinya yang mustahil saya lupakan. Kalimat itu terlontar ketika saya mengajukan surat resign. Begitu ia menerima surat yang saya sodorkan dan membacanya sekilas, ia berseloroh dengan congkak, “Generasi sekarang memang cengeng-cengeng semua. Baru setahun kerja sudah nggak kuat. Beda sekali dengan generasi saya dulu. Generasi saya dulu mau berusaha merasakan perih dulu.”

Kata-kata itu ia ucapkan dengan sok gagah sembari menunjukkan betapa hebatnya generasi lawas. Sekaligus terkesan menyayangkan keputusan saya yang memilih resign—lucunya beberapa bulan sebelumnya ia pernah mengatakan saya tak becus dalam bekerja dan sebaiknya resign saja. Dasar bos plin plan!

Baginya, keputusan saya adalah bukti bahwa generasi sekarang—atau kita lebih mengenalnya sebagai millenials—itu lemah. Mental generasi milenial itu seperti tempe, agar, dan keju. Sedangkan generasi baby boomers dan generasi X mentalnya baja kualitas super. Generasi lawas adalah mereka yang selalu identik dengan sikap bijak bestari.

Dan, atasan saya di kantor lawas masih saja terkungkung dalam nostalgia zaman keemasan generasinya. Kasihan! Padahal saya menganggapnya tak lebih dari pecundang yang terjebak dalam situasi “sudah kepalang tanggung punya banyak tanggungan”. Sehingga mustahil baginya melakukan petualangan kariernya lebih jauh dan penuh risiko.

Sedangkan saya, merasa masih dalam usia belia dan haus akan segala bentuk petualangan karier yang seru. Meskipun sempat juga merasa tidak tahu harus ke mana dan mengerjakan apa. Namun, akhirnya saya memutuskan bekerja sebagai penulis lepas yang sistem kerjanya dilakukan secara remote. Saya menjadi akhirnya sempat menjadi bagian dari “generasi tanpa kantor”.

Apa yang saya sebut “generasi tanpa kantor” itu juga sempat disinggung oleh Yoris Sebastian dalam buku Generasi Langgas: Millenials Indonesia (2016). Dalam risetnya Yoris mengatakan bahwa generasi yang sering diolok-olok cengeng itu memang punya kecenderungan budaya kerja yang berbeda. Mereka menyukai kebebasan, kemudahan, kreativitas, tantangan, dan kolaborasi kerja yang menyenangkan. Persis seperti lema “langgas” yang artinya juga ialah kebebasan.

Yoris juga menunjukkan data turn over pekerja angkatan muda yang tinggi. Umumnya, generasi ini hanya butuh 1 sampai 2 tahun saja untuk memutuskan dirinya bertahan atau resign. Tetapi, menurut Yoris hal ini bukan karena mental mereka cemen, namun karena generasi langgas ini secara sadar paham akan pilihan hidup mereka. Yoris juga mengatakan bahwa generasi langgas setelah resign biasanya justru beralih pada pekerjaan kreatif yang bisa dilakukan secara remote, alias memilih menjadi “generasi tanpa kantor.”

Fenomena ini semakin kentara dengan ditandai oleh kehadiran beberapa tempat co-working place. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya co-working place bak cendawan di musim hujan. Semuanya menawarkan berbagai fasilitas, dari wifi sampai ruangan yang cozy. Kerja-kerja kreatif generasi tanpa kantor bisa dilakukan dengan asyik di co-working place. Mereka pun bisa pula melakukan brainstorming dengan rekan kerja dari berbagai background. Tentu, hal ini akan membuat kerja-kerja menjadi lebih menyenangkan dan kaya ide.

Sekarang pun sudah banyak sekali perkakas digital yang memungkinkan orang tidak perlu repot berangkat ke kantor hanya untuk bekerja. Biasanya, perkakas ini sering dipakai oleh mereka yang bekerja di industri digital start up. Ada kantor-kantor virtual seperti platform bernama slack yang memudahkan orang untuk bekerja dan berdiskusi bersama dalam ruang digital. Bahkan, aplikasi perkantoran bisa dikerjakan secara online melalui fitur google docs, dan bisa disimpan di ruang digital melalui google drive. Tanpa perlu khawatir data rusak atau lenyap karena virus.

Jika pun ada rapat penting yang mengharuskan tatap muka, kini orang juga tak perlu hadir di tempat rapat. Cukup membuat teleconference dengan aplikasi seperti google hang out. Anda bisa menghadiri rapat meski terjebak dalam mobil ketika macet, atau bahkan melakukan rapat sembari menikmati kemalasan di atas kasur yang empuk.

Semua kerja-kerja ini tak mensyaratkan sebuah kantor, cukup hanya dengan kuota data dan kualitas sinyal yang mumpuni, kerja bisa tercipta. Sekali lagi, generasi tanpa kantor adalah keniscayaan abad modern ini. Orang-orang yang melabeli generasi ini sebagai pemalas, cemen, dan pegangguran barangkali memang belum sampai bisa memahami betapa majunya teknologi.

Padahal, jauh-jauh hari pakar futuris sekelas Alvin Toffler pun sudah meramalkan bahwa di masa depan kegiatan industri bisa dilakukan di rumah, sebuah organisasi tak memerlukan struktur formal, konsep ekonomi berbagi juga bakal makin marak. Semuanya sudah tertulis dalam buku Future Shock yang ditulisnya pada 1970.

Jangan heran pula apabila generasi tanpa kantor juga mulai berhenti membaca buku-buku genre motivasi. Buku-buku motivasi perlahan akan tergusur dari rak-rak berlabel best seller toko buku. Genre buku motivasi akan digantikan oleh genre buku bernama life enthusiast. Jika buku motivasi melulu bicara tentang kesuksesan untuk meraih kegemilangan materi, buku life enthusiast justru membahas tentang kebermaknaan hidup dan cara mengelola keseimbangan hidup.

Generasi tanpa kantor tidak lagi bekerja melulu hanya soal uang dan pangkat. Namun, jauh lebih dari itu, mereka mencari apa yang disebut sebagai kebermaknaan—atau pada titik lain ini juga bisa berarti sebagai sebuah petualangan batin yang menyenangkan.

Maka lengkaplah sudah karakter generasi tanpa kantor yang unik ini. Mereka bukan generasi pengangguran tanpa visi yang hidupnya seperti ternak yang perlu digembalakan. Generasi tanpa kantor ialah generasi yang memenuhi tuntutan zaman teknologi. Generasi tanpa kantor berjalan maju dengan jujur dan langkah pasti tanpa nuansa kegagahan yang dibikin-bikin. Sebab mereka tak ingin diringkus dalam kerangka normatif yang penuh dengan basa-basi formalitas.

Jadi sudahlah, kawanku para “generasi tanpa kantor”, jangan terlalu menganggap omongan orang lain yang melulu mengira kerja hanya terjadi di dalam kantor berkaca yang mewah. Mereka barangkali memang jenis manusia yang hanya bisa melihat kebahagiaan dari seragam formal dan bilik-bilik kubikel. Kalian seharusnya justru bersimpati kepada manusia-manusia dengan alam pikiran jadul seperti itu.

So, baiklah, saya ucapkan selamat berbahagia untuk kalian para generasi tanpa kantor!

Rakhmad Hidayatulloh Permana generasi milenial yang malas bangun pagi, penggemar susu murni dan cilok goang

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*