BERITA WARGA MENULIS

Menakar umur media cetak Indonesia

Satu per satu media cetak tanah air rontok, akibat gempuran internet dan krisis ekonomi. Inikah waktu yang tepat ucapkan selamat tinggal?

Aceh Watch|Senjakala media cetak bukan hanya kabar burung, setelah ditandai kematian beruntun sejumlah media. Yang terbaru, tumbangnya media cetak menimpa Harian Bernas yang terbit di Yogyakarta. Media tiga zaman yang didirikan Menteri Penerangan pertama RI Mr Soemanang ini resmi tak beroperasi per tanggal 1 Maret 2018. Manajer Sirkulasi Bernas, Tedy Kartyadi menerangkan, kematian tersebut lantaran hantaman internet, sehingga memaksa Bernas bertransformasi ke format digital.

Tutupnya koran yang berdiri pada 15 November 1946 ini menyusul pendahulunya, Joglosemar Solo yang lebih dulu mati, pada akhir tahun lalu. Menurut catatan Alinea, lonceng kematian dari jagat media cetak sudah berbunyi sejak sejumlah media seperti Harian Bola, Soccer, Jurnal Nasional, Jakarta Globe, Sinar Harapan memutuskan tutup.

Untuk majalah, kematian itu telah dialami Majalah Tajuk, Prospek, Fortune, Hai, dan Rolling Stone. Kematian parsial juga terindikasi dari penutupan biro koran Sindo, Galamedia edisi Minggu, dan Koran Minggu Tempo. Bahkan pada Desember 2016, delapan produk KPG, yakni Kawanku, Sinyal, Chip, Chip Foto Video, What Hi Fi, Auto Expert, Car and Turning Guide, serta Motor resmi ditutup dan dikonvergensikan dalam cewekbanget.id dan grid.co.id.

Rilis ditutupnya Harian Bernas dan dimigrasikan ke format digital/ istimewa

Daftar kematian beruntun ini diduga akan terus bertambah, seiring penurunan oplah media cetak. Data Serikat Perusahaan Pers (SPS) mendokumentasikan tren oplah media cetak. Sejak 2008 hingga 2014, oplah harian menunjukkan tren naik, kendati jumlah media naik-turun. Pada 2008, total oplah harian berjumlah 7,49 juta. Angka ini terus meningkat meski intervalnya tak terpaut signifikan. Puncaknya pada 2014, total oplah telah mencapai 9,65 juta. Kenaikan itu tak terjadi di 2015, ketika oplah terjun bebas ke 8,79 juta. Merosotnya oplah media cetak ini paling banter menimpa majalah atau tabloid mingguan.

Sejumlah pengamat media mengatakan dua sebab utama kematian media cetak. Pertama karena krisis ekonomi, kedua karena masifnya penggunaan internet dewasa ini. Krisis ekonomi dalam praktik pengelolaan media adalah keniscayaan, jika dikaitkan dengan tren penggunaan internet yang naik. ”Sekitar 40 koran di Amerika telah menghadapi kebangkrutan. Krisis ekonomi dan internet menjadi hantaman ganda bagi industri koran dan media cetak lainnya saat ini,” celetuk Redaktur Pelaksana New York Times, Jill Abramson pada 2009 lalu. Harian New York Times sendiri bangkrut tak lama setelahnya.

Hantaman ekonomi sangat mungkin terjadi di industri media cetak. Perusahaan menurut mantan Pemimpin Redaksi Republika, Nasihin Masha, tentu tak ingin beriklan di media yang audiensnya sedikit. Dikutip dari Antara, pendapatan utama media cetak adalah lewat kue-kue iklan. “Saat oplah menurun, perusahaan tentu akan beralih strategi pemasaran, tak lagi mengucurkan dana ke media cetak lagi,” ungkapnya.

Menurut riset Nielsen Indonesia yang rilis pada September 2017, belanja iklan di semester 1 2017 mengalami peningkatan sebesar 6%. Pasalnya banyak pegiat parpol yang butuh wadah pencitraan di tahun politik. Total belanja iklan dari media cetak dan televisi mencapai Rp82,1 triliun. Namun belanja terbesar justru dari media televisi sebesar Rp 65,1 triliun, disusul koran Rp 15,6 triliun, dan radio senilai Rp 811,8 miliar. Di sini tampak jika belanja untuk koran memang tak sebesar platform televisi.

Belanja koran yang minim membuat banyak koran meradang, sehingga banyak harian yang diramalkan akan gulung tikar. Dosen Komunikasi UGM Ana Nadhya Abrar menuturkan, matinya media cetak sudah diramalkan sejak lama, namun tak dinyana akan secepat ini. Hal ini senada dengan teori Matematika Komunikasi Claude Shannon dan Waver (1948). Aplikasi teori ini menjelaskan fenomena kematian media cetak yang tak terelakkan, karena publik menginginkan proses ketersampaian komunikasi yang lebih cepat.

Platform digital atau daringlah yang kemudian mampu menjawab tantangan ini. Apalagi merujuk pada data pengguna internet yang disarikan dari laman Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII). Sepanjang 2017, dari jumlah populasi Indonesia sebanyak 262 juta orang, lebih dari 50% atau 143 juta telah terhubung dengan internet.

Membaca tren ini, tak heran jika kemudian sejumlah media cetak yang gulung tikar memilih bermigrasi ke jagat maya. Termasuk koran Bernas, yang diketahui beralih ke www.koranbernas.co.id, usai penutupan versi kertasnya.

PHK massal jurnalis cetak dan penurunan kualitas jurnalisme

Kematian media cetak di Negeri Paman Sam yang ramai terjadi pada 2002 hingga 2003, juga jadi pukulan berat bagi pegiat media. Apalagi masuk dalam barisan yang bangkrut termasuk media besar sekaliber The New York Times dan beberapa jaringan Wall Street Journal. Kematian koran di Amerika berefek pada keberlangsungan media cetak tanah air. Banyak koran dan majalah yang memutuskan mengimitasi langkah koran-koran Amerika, dan beralih ke format digital.

Tak ayal itu berdampak pada pengurangan jurnalis di sejumlah media. Biro koran Sindo Yogyakarta pada 2016 juga melakukan PHK massal pada 42 karyawannya. Pengamat media, Ignatius Heryanto mengatakan, fenomena PHK massal jurnalis membuat mereka berada di posisi rentan.

“Disrupsi terhadap industri media bisa mengancam keberlangsungan jurnalis dan keluarga yang dihidupi. Apalagi jika mekanisme perumahan karyawan tak dijalankan secara berkeadilan,” ujarnya pada Alinea, awal Februari lalu.

Di samping itu, migrasi media cetak ke format digital juga menyisakan sejumlah catatan. Mantan peneliti Remotivi Wisnu Prasetya mengungkapkan, ada penurunan kualitas jurnalisme di media daring. “Perpindahan media cetak ke daring umumnya tak diikuti dengan perbaikan kualitas,” tandas lulusan Komunikasi UGM ini.

Apalagi mengingat, media daring memiliki karakter yang sangat berbeda dengan media cetak. Panjang berita, gaya penceritaan, semua mengacu pada kecepatan semata. “Media daring sudah mulai riuh akhir-akhir ini, dan upaya mengesampingkan kualitas jadi sebuah keniscayaan,” ungkap Ignatius.

Menurut Bill Kovach dalam bukunya ‘Blur’ (2012), tantangan terbesar di era banjir informasi adalah kualitas informasi yang bercampur dengan berbagai hoaks dan ujaran kebencian. “Media yang tak jeli membaca hal itu, tak jarang jadi malas melakukan verifikasi. Yang penting berita naik dulu, salah tinggal dikoreksi kemudian. “Jika media latah seperti ini terus, maka sesungguhnya media ini tengah membunuh dirinya sendiri,” pungkas Direktur Remotivi, Muhammad Heychael.(Purnama Ayu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *