BERITA WARGA MENULIS

Anwar Ibrahim-Mahathir Mohamad Di Pemilu Malaysia 2018 Rasa Sinetron Indosiar

Aceh Watch| Pemilu Malaysia 2018 menghasilkan duet Mahathir Mohamad dan putri Anwar Ibrahim, Nurul Izzah Anwar, sebagai pemenang. Selain fakta Mahathir menjadi PM lagi di usia 92 tahun, ada fakta lain yang membuat pemilu ini serasa sinetron Indosiar.

Jika kamu pikir dunia politik di Indonesia adalah satu-satunya dunia ala sinetron Indosiar dengan karakter ajaib seperti Setnov atau Fadli Zon, kamu perlu melihat situasi terkini dari hasil pemilu Malaysia.

Pemenang pemilu Malaysia 2018 kali ini adalah Mahathir Mohamad. Bagi kamu yang tidak kenal blio, blio ini pejabat senior Malaysia yang telah memimpin Malaysia selama 22 tahun dari 1981 sampai 2003 sebagai perdana menteri.

Tentu saja kalau dibandingkan dengan bapaknya Tommy Soeharto, Mahathir masih remah-remah biskuit kelapa aja—meskipun tetap saja, keikutsertaan Mahathir kembali dalam dunia perpolitikan Malaysia jadi berita besar. Apalagi si opa menang lagi. Dengan kemenangannya, berikut usia yang mencapai 92 tahun, Mahathir bisa didapuk masuk Guinness Book of Records sebagai pemimpin pemerintahan tertua di dunia.

Ya wajar dong dia menang, kan orang udah hapal mukanya. Pejabat senior kok.

Eh tunggu dulu, justru dari sini ceritanya makin mirip dengan ruwetnya sinetron Indosiar.

Hal yang bikin kisah ini jadi tidak wajar adalah karena Mahathir merupakan sosok yang dulu merupakan ujung tombak pemerintahan Malaysia selama bertahun-tahun. Pemerintahan Malaysia dulu dipimpin sama Mahathir sendiri, namun di periode kemarin Mahathir memilih berada di sisi seberang alias menjadi oposisi.

Jadi, bisa dibilang petarungan pemilu Malaysia periode kali ini adalah pertarungan antara teman lawan teman. Antara Mahathir dengan si lawan, yaitu Najib Razak, perdana menteri Malaysia periode lalu yang jelas pro-pemerintahan.

Jika, dulunya Mahathir dan Najib adalah teman satu geng—bahkan bisa disebut Mahathir ini adalah mentor politiknya Najib—kali ini Mahathir malah masuk bergabung jadi kelompok oposisi yang balik melawan kubu pemerintahan. Ini ibarat Pak Harto gabung sama PDIP untuk bertarung melawan Tommy Soeharto dari Partai Berkarya.

Analogi ini semakin masuk karena pihak yang dipilih Mahathir adalah kubu oposisi yang di sana bercokol yang namanya Nurul Izzah Anwar, pejuang reformasi Malaysia.

Nah, si Nurul ini adalah putri dari Anwar Ibrahim, orang yang dijebloskan Mahathir dua kali ke penjara karena tuduhan sodomi dan korupsi (tentu saja banyak yang mencurigai ini upaya kriminalisasi saja untuk menyingkirkan Anwar Ibrahim dari dunia politik).

Nah, nggak terima karena merasa dikriminalisasi, Anwar Ibrahim kemudian bikin Partai Keadilan Rakyat (PKR) sebagai upaya untuk melengserkan sosok yang dulu memenjarakannya. Ya siapa lagi kalau bukan si Opa Mahathir ini.

Di sini kemudian keajaiban terjadi: partai yang dulu rencananya digunakan untuk melengserkan Mahathir, malah dipakai sendiri oleh Mahathir guna mencalonkan diri sebagai perdana menteri guna melawan pemerintahan pada pemilu Malaysia 2018.

Meskipun berbagai upaya dilakukan oleh pemerintahan Malaysia guna mengganggu Mahathir dalam mencalonkan diri, seperti larangan KPU Malaysia untuk menampilkan foto Mahathir dengan alasan yang nggak jelas, sampai beberapa kasus penggelembungan suara kubu pemerintah, pada akhirnya pasangan Mahathir dan Nurul (putri Anwar Ibrahim) sebagai calon PM dan calon wakil PM tetap berhasil memenangkan pemilu dan akan memimpin Malaysia untuk lima tahun ke depan.

Situasi ini bisa jadi gambaran betapa perlunya beberapa sutradara sinetron Indosiar mempertimbangkan untuk mengangkat situasi perpolitikan di negeri seberang sebagai episode baru. Meskipun ceritanya lebih mirip-mirip seperti kisah Game of Thrones, tapi di tangan sutradara sinetron Indosiar yang super-duper-kreatif, mungkin bisa saja judulnya dibikin: “Patnerku Adalah Orang yang Menjebloskan Bapakku ke Penjara”.(Khadafi Ahmad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *