BERITA INTERNASIONAL

Kalahkan Najib Razak, Mahathir Mohamad Dilantik Jadi PM Malaysia

Aceh Watch, Kuala Lumpur-  Perdana Menteri Malaysia yang baru dilantik, Mahathir Mohamad, menjalani pelantikan sebagai orang nomor satu di negeri jiran ini pada pukul 9.30 malam waktu setempat di Istana Negara.

Mahathir membacakan sumpah jabatan sebagai Perdana Menteri Malaysia ke 7 menggantikan Najib Razak setelah koalisi pimpinannya Pakatan Harapan mengantongi suara mayoritas sederhana di parlemen. Pelantikan Mahathir dipimpin Raja Malaysia, Yang Dipertuan Agong, Sultan Muhammad V.

“Saya Mahathir bin Mohamad, setelah dilantik memegang jabatan Perdana Menteri dengan sesungguhnya bersumpah bahwa saya akan dengan jujur menunaikan kewajiban-kewajibab,” kata Mahathir, yang mengenakan pakaian adat Melayu serba hitam, sambil berdiri memegang naskah sumpah jabatan di hadapan Sultan Muhammad V, seperti terlihat dalam video televisi Malaysia di Youtube Kamis, 10 Mei 2018.

Sejumlah pimpinan dari koalisi Pakatan Harapan terlihat hadir dalam pelantikan ini seperti Presiden Partai Keadilan Rakyat, Wan Azizah Wan Ismail, dan Presiden Partai Amanah Negara, Mohamad bin Sabu. Wan Azizah disebut-sebut sebagai kandidat kuat untuk posisi Wakil Perdana Menteri.

Tokoh oposisi sekaligus calon Perdana Menteri terpilih, Mahathir Mohamad, menggelar jumpa pers untuk menegaskan kemenangan koalisi Pakatan Harapan setelah Najib Razak, pelaksana tugas PM Malaysia, melakukan jumpa pers dengan menyebut tidak ada partai yang memenangkan mayoritas sederhana pada pemilu Malaysia 2018. Free Malaysia Today.

Pelantikan ini molor dari praktek kenegaraan yang berlaku rutin di Malaysia. Biasanya, pelantikan Perdana Menteri baru berlangsung pada pagi hari setelah hari pencoblosan.

Namun, molornya waktu penghitungan suara membuat proses pelantikan juga tertunda. “Semuanya tertunda saat ini,” kata Mahatir dalam jumpa pers kemarin.

Ini terjadi setelah election commission atau KPU Malaysia, seperti dilansir Channel News Asia, terlambat menyerahkan hasil perhitungan suara, yang biasanya telah diumumkan pada malam hari pencoblosan. Kemarin, pengumuman itu baru dilakukan pada sekitar pukul empat pagi keesokan harinya atau Kamis subuh, 10 Mei 2018.

Keterlambatan pelantikan PM baru ini juga terjadi karena ada kesimpang-siuran mengenai koalisi partai yang mendapat kursi dengan jumlah mayoritas sederhana di parlemen atau Dewan Rakyat.

Mahathir Mohamad, mengangkat tangannya saat merayakan keberhasilannya memenangkan pemilu Malaysia di Kuala Lumpur, Malaysia, 9 Mei 2018. Koalisi Pakatan Harapan yang dipimpinnya memenangkan 115 kursi parlemen, melebihi ambang batas 112 kursi yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan. AP

Ketua Barisan Nasional, Najib Razak, yang juga PM demisioner, mengatakan tidak ada partai yang mendapat kursi sehingga posisi PM akan ditentukan oleh raja Malaysia. BN hanya mendapat 79 kursi atau turun dari 133 kursi pada pemilu sebelumnya.

Sebaliknya, Mahathir mengatakan koalisi Pakatan Harapan mendapat mayoritas sederhana di Dewan Rakyat. Dia juga telah mendapat dukungan mayoritas anggota parlemen dari koalisinya untuk menjadi PM. Sedangkan PH mendapat 113 kursi atau naik dari 89 kursi pada pemilu sebelumnya.

Ditambah kursi dari perolehan Partai Warisan Sabah, yang merupakan partai lokal di negara bagian Sabah, koalisi PH mendapat jumlah mayoritas signifikan untuk kursi di parlemen atau Dewan Rakyat.

Kemarin, bersama ketiga pimpinan koalisi PH, Mahathir sempat berkirim surat kepada raja Malaysia agar pelantikan segera dilakukan sebelum pukul lima sore pada, Kamis, 10 Mei 2018. “Saat ini Malaysia tidak memiliki pemerintahan,” kata Mahathir dalam jumpa pers. “Pemerintahan Najib Razak sudah tidak ada lagi sejak kemarin malam.”

Setelah melakukan audiensi dengan Sultan Muhammad V di Istana Negara pada Kamis sore, Mahathir dan pimpinan PH mendapat kejelasan waktu pelantikan yaitu pukul 9.30 malam pada Kamis, 10 Mei 2018 waktu setempat.(tempo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *