BERITA DAERAH

Semangat Persatuan dari Calon Senator Muda

PRIA muda itu dikelilingi oleh sejumlah lelaki yang jauh lebih tua darinya. Usia mereka rata-rata berkepala empat. Sementara pria tadi masih sekitaran 34 tahun. Namun tak ada yang membantah saat sang pemuda tadi berbicara. Berulang kali kepala mereka malah mengangguk sebagai tanda setuju terkait apa yang disampaikan.

“Jadi daya tawar Aceh terhadap pusat, makin hari makin lemah. Kondisi ini berpengaruh terhadap bargaining Aceh sebagaimana yang telah disepakati dalam perjanjian damai. Kalau kita tak segera melakukan langkah-langkah penyatuan Aceh, maka kedepan makin sulit lagi. Akhirnya apa yang diperjuangkan dulu akan sia-sia,” kata pria muda tadi saat bersilaturahmi dengan perwakilan warga Meuraksa, Kota Banda Aceh, di salah satu Warkop di Ulee Lhee, Minggu malam.

Ia adalah Murdani, calon DPD RI dari Aceh dengan nomor urut 40. Sosok ini digadang-gadang sebagai calon kuat untuk meraih kursi DPD RI di Pileg 2019 mendatang. Murdani juga mendapat dukungan penuh dari jajaran KPA PA dari seluruh Aceh.

Sosok pemuda yang santun ini sebenarnya bukanlah sosok baru di kalangan wartawan yang ada di Banda Aceh.

Ia adalah aktivis mahasiswa dari 2003 hingga 2007 serta pernah bergabung dalam Liga Mahasiswa Aceh (Lima) serta menjabat sebagai ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FKIP Universitas Syiah Kuala.

Pada Februari 2007, ia kemudian bergabung dengan media Harian Aceh dengan status wartawan. Tulisannya di awal-awal damai yang keras pada masa itu sering membuatnya berurusan dengan pihak keamanan.

“Saya di Harian Aceh hingga 2011, kemudian pindah ke media online atjehpost.com. Atjehpost tutup pada 2015 karena berbagai persoalan. Salah satunya karena dilaporkan ke Polda oleh gubernur Aceh masa itu dengan aduan pencemaran nama baik,” kata pria kelahiran Ladong, kabupaten Aceh Besar ini lagi.

“Usai dari atjehpost, saya dan kawan kawan sempat mendirikan portalsatu.com, tapi belum enam bulan, saya keluar dan bergabung dengan Partai Aceh dengan posisi sekretaris Juru Bicara DPA Partai Aceh,” ujar suami dari Hamdina Wahyuni ini lagi.

Pria yang merupakan alumni FKIP Sejarah ini memiliki pengetahuai yang luas soal sejarah Aceh. Hal ini pula yang membuatnya cepat akrab dengan berbagai lapisan masyarakat dan dicalonkan sebagai calon senator meski berusia muda.

Murdani kini aktif dalam komunitas Atjeh Meusaboh. Komunitas yang anggotanya berasal dari berbagai elemen dan partai, tetapi menyuarakan persatuan Aceh.

“Selain itu juga masih mengajar menulis bagi yang berminat, karena menulis merupakan bagian dari merawat sejarah,” ujar pria yang juga penulis buku Sang Kombatan dan Martir ini.

“Ikrar Lamteh menjadi catatan hitam dalam sejarah Aceh, dan kita tidak mau MoU Helsinki bernasib sama seperti Ikrar Lamteh. Saat konflik, yang menjadi bargaining Aceh adalah GAM. Kini kita sudah damai, harusnya bargaining kita adalah persatuan. Menuntut komitmen pusat terkait apa yang sudah dijanjikan adalah bagian dari mencegah konflik berulang di Aceh. Dasar ini yang kemudian menjadi alasan bagi saya menerima tawaran dari pimpinan KPA PA untuk mencalonkan diri sebagai calon DPD RI di Pileg 2019 nanti,” ujar ayah satu anak ini lagi. []

4 Replies to “Semangat Persatuan dari Calon Senator Muda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *