BERITA DAERAH

Asai Katrok U RSUZA Ka Telepon Si Is

PRIA muda itu terlihat kebingungan. Ia berulang kali menggaruk kepala walaupun tak gatal. Matanya melotot memandangi layar handphone  miliknya. Keningnya berkerut. Prilaku itu membuat  teman di sampingnya penasaran. “Pakon bang?” ujar pria di sampingnya itu. Ia sedikit lebih muda dari pria yang terlihat kebingungan tadi.

Nyoe na yang SMS loen. Isi jih pat drokeuh? Tapi nomor nyoe hana tersimpan bak handphone lon,” ujarnya. Ia adalah Iskandar Usman Al-Farlaky, ketua Fraksi PA di DPR Aceh. Iskandar menerima pesan tersebut saat hendak pulang dari acara milad ke 42 Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang berlangsung di Komplek Meureu, Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Selasa 4 Desember 2018. Sementara temannya tadi adalah Murdani, mantan sekretaris Jubir DPA Partai Aceh, yang juga calon DPD RI asal Aceh nomor 40 di Pileg 2019 mendatang. Saat itu, keduanya sudah berada di pintu gerbang komplek Meureu.

Meunyoe meunan neu abaikan mantong,” ujar Murdani. Tapi jawaban ini tetap membuat kening Iskandar berkerut.

Hanjeut. Kiban meunyoe SMS nyoe penteng?” balas Iskandar. Ia kemudian mencoba menghubungi nomor tadi. Namun berulangkali dihubungi, nomor tadi tak juga menjawab. Iskandar dan rombongan kemudian bergegas menuju mobil dan melaju dengan kecepatan sedang. Tak lama kemudian, rombongan ini tiba di DPR Aceh. Mereka menuju ke ruang Komisi 1. Disana, Iskandar terlihat sibuk dengan setumpuk kertas yang berada di atas mejanya. Sementara Murdani sibuk dengan laptopnya. Jelang Dhuhur, nomor yang tak dikenal tadi kembali menghubungi Iskandar. Iskandar menjawab dengan mengaktifkan pengeras suara handphone.

Hai bang keuh saket. Hana kajak?” terdengar suara perempuan di handphone.

Pertanyaan perempuan di handphone tadi kembali membuat kening Iskandar berkerut. “Bang toh? Rumoh saket pat?”kata Iskandar. Ia masih belum nyambung dengan sosok wanita yang menelponnya tadi. Selain nomor handphone tadi tak tersimpan, sang penelpon juga tak memperkenalkan nama, serta justru memintanya untuk datang ke rumah sakit. Padahal, rumah sakit di Banda Aceh sangat banyak dan bukan cuma satu.

“RSUZA. Kajak laju,” jawab sang wanita sambil memutuskan komunikasi dengan nada ketus. Sikap cuek dari penelpon tadi kembali membuat Iskandar terlihat bingung.

Usai menerima telepon tadi, Iskandar terlihat mengelus dada. Sementara Murdani yang berada di dekatnya mencoba tersenyum. Hanya berselang lima menit, nomor handphone berbeda kembali menghubungi Iskandar. “Mungkin nyoe kak bunoe. Geutelepon dengoe nomor laen,” kata Iskandar. Namun usai tersambung, terdengar suara wanita, tapi suara yang berbeda.

“Pak Is, kamoe keneuk balek u gampong. Kajok peng untuk ongkos moto bacut,” ujar wanita di seberang telepon. Permintaan wanita ini kembali membuat Iskandar geleng-geleng kepala.

Jeut kak, neuyue intat droe neuh bak moto L-300 ukeu kantoe  DPRA laju. Tamerumpok dkeu bak jalan ,” jawab Iskandar.

“Jeut,” balas wanita tadi. Komunikasi kemudian terputus.

Reaksi Iskandar ini justru membuat Murdani kebingungan. “Pakon hana neutanyoe nan bang?” tanyanya.

Hana. Tapi kak nyoe ka pernah geutelepon lon barosa saat tamong u RSUZA. Tapi hana sempat loen jenguk lom. Uroe nyoe geutelepon geupeugah keneuk balek u gampong dan geulakee bantu ongkos moto, mungken kasehat ureung njoe. Alhamdulillah mantong jeut ta bantu, ya ta bantu,” jawab Iskandar bijak. Mendengar hal ini, Murdani terlihat mengangguk tanda setuju.

Keduanya kemudian melangkah keluar ruang Komisi 1 DPR Aceh serta menuju mobil. Laju mobil ini berhenti pas di depan pintu masuk kantor DPR Aceh. “Lon preh ureung siat. Hana trep beh,” kata Iskandar saat membuka pintu mobil ke para Satpam yang sedang bertugas. Mereka membalas dengan tersenyum. Tak berapa lama, satu mobil L-300 berhenti di depan Iskandar, seorang wanita berumur 40-an turun mendekati Iskandar.

Loen yang telepon bunoe pak, kamoe dari Aceh Timue. Inoeng…(menyebutkan nama seseorang-red),” ujar wanita tadi. Iskandar terlihat mengangguk dan kemudian menyerahkan beberapa lembar uang Rp100 kepada wanita tadi. Wanita itu kemudian melaju ke L300 dan mobil penumpang itu pun berlalu.

 Murdani turun dari mobil dan kemudian menyapa Iskandar. “Meuturi bang?” tanyanya. Iskandar lagi-lagi menggeleng.

Jawaban Iskandar ini membuat kening Murdani berkerut. “Pakon han neutanyoeng?” balasnya kemudian. Iskandar tak langsung menjawab. Ia bergegas ke mobil dan duduk di posisi supir. Sementara Murdani duduk di sebelahnya.

Han mungken ta selidik lagee wartawan. Mungken geutanyoe hana taturi gopnyan, tapi gopnyan turi geutanyoe. Nyoe hana geuturi, han mungken na nomor handphone lon bak ngopnyan,” kata Iskandar saat itu.

Baik Murdani maupun Iskandar, merupakan mantan wartawan yang kini tercatat sebagai kader Partai Aceh dan maju di Pileg 2019 mendatang. Bedanya, Iskandar menjadi calon DPR Aceh dari Dapil Aceh Timur. Sedangkan Murdani untuk DPD RI.

Masuk akal, Jinoe hoe tajak lom?” kata Murdani.

Tajak u RSUZA. Tamerumpok kak yang telepon awai Bunoe,” jawab Iskandar sambil balik arah ke RSUZA. Kata Iskandar, selama ini banyak nomor baru yang masuk ke telepon miliknya. Semua nomor tadi berhubungan dengan orang sakit atau RSUZA.

“Mereka semua tetap saya layani sebisa mungkin. Ada yang minta kamar rawat inap hingga lainnya. Inilah yang mungkin akhirnya saya paling sering berhubungan dengan jajaran direktur dan wadir RSUZA. Pengurusannya kan melalui mereka (Dirut-red),” jelas Iskandar. Murdani terlihat tersenyum mendengar curhat Iskandar.

“Meunyoe katrok u RSUZA ka telepon si Is, mungken na yang jeut geubantu” begitu asumsi yang berkembang di Aceh Timur. Iskandar sendiri tak merasa direpotkan dengan hal tersebut.

Usai parkir mobil di depan RSUZA, keduanya kemudian memasuki gedung. Di sana, kemudian Iskandar kembali menghubungi nomor perempuan tadi.

Pat ruangan ureung droneuh kak? Neujok telepon siat bak perawat hinan,” tanya Al-Farlaky usai tersambung.

Oke jeut. Kamoe jak keunan,” kata Iskandar lagi sambil memutuskan komunikasi. Ia kemudian berjalan di depan. Sementara saya dan Murdani menyusul dari belakang. Kami mengarah ke ruang paru yang berada paling belakang lantai dua.

Di lokasi yang kami tuju, dua orang wanita berusia 50-an terlihat kaget melihat kedatangan kami.

‘’ooo, njoe pak Iskandar njoe katroeh?” jawab salah seorang di antara mereka.

Cek punya cek, ternyata wanita tadi diminta oleh pasien yang sakit yang menelepon Iskandar, sebab tidak sanggup menelepon sendiri.  Katanya, sang saudara yang sakit paru tadi sangat ingin sekali menemui Iskandar. Atas dasar itu, ia menelpon Iskandar. Ia tak tahu kalau Iskandar yang dimaksud adalah Ketua Fraksi PA di DPR Aceh. Sang wanita berpikir bahwa Iskandar yang dihubunginya adalah orang lain, ternyata politisi  muda asal AcehTimur itu. Pasien yang sakit sendiri bernama Bang Amir dari Aceh Timur.

Geupeugah lee bang? Ka hubungi Iskandar. Kamoe ureung gampong panena meuphom. Loen hubungi laju. Meah pak,” jawab sang wanita tadi sambil mencoba tersenyum. Sementara Iskandar justru tertawa.

Jeut kak. Hana masalah. Ukeu meunyoe neutelepon, neupeugah beu lengkap. Supaya hana mumang kamoe. Insya Allah asai na lueung watei loen jak saweu,” kata Iskandar yang memang sering membesuk pasien dari berbagai daerah ini. Suasana kemudian mencair. Setelah menyerahkan sedikit santuanan, Al-Farlaky kemudian pamit karena banyak agenda lain yang harus ia selesaikan.

Penulis: Yusuf Sarungdayang 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *