BERITA DAERAH

Satu Jam Bersama Pang Sumatera

PRIA itu berbadan kekar. Tampangnya terlihat sangar dan galak. Namun kesan tersebut langsung berubah ketika ia mulai berbicara.

“Apa kabar adinda. Maaf jika tempat yang sederhana ini membuat kalian tidak nyaman,” katanya saat menerima wartawan acehwatch.com di kediamannya beberapa waktu lalu.

Rumah tersebut sangat sederhana dan jauh dari kesan mewah. Hanya ruang tamu tanpa kursi serta satu kamar tidur yang tersambung kamar mandi. Rumah ini terletak di Desa Masjid, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Tamiang.

“Ini rumah saya. Ini rumah Pang Sumatera,” kata sosok ini lagi sambil tersenyum.

Baca juga:

Semangat Persatuan dari Calon Senator Muda

Ia adalah Budi Satria, namun orang-orang memanggilnya dengan sebutan Pang Sumatra atau Budi Pang Sumatra. Nama ini merupakan sebutan untuk sosok tersebut dalam organisasi Komite Peralihan Aceh (KPA), sebuah wadah mantan kombatan GAM yang terbentuk usai penandatangan damai.

“Jangan lihat kami dari tampang, tapi hatinya,” kata pria yang kini berstatus sebagai wakil panglima Tamiang ini lagi.

Meskipun berlatar belakang militer GAM, namun Pang Sumatra ternyata memiliki pengetahuan yang luar soal Aceh. Ia bercerita soal asal muasal konflik Aceh hingga penandatangan damai dengan lugas dan terinci.

Pang Sumatra juga bercerita persoalan demi persoalan yang dihadapi Aceh usai damai. Terutama persoalan krisis ekonomi yang dialami oleh mayoritas mantan kombatan di tiap daerah.

“Jadi stigma bahwa kombatan GAM makmur usai damai salah besar. Ada tapi satu dua. Anda lihat sendiri kalau rumah saya seperti ini. Stigma yang dikembangkan tadi untuk meruntuhkan perjuangan politik Aceh dan membuat masyarakat membenci Partai Aceh yang merupakan seunambong perjuangan di politik,” kata pria yang dikenal dekat dengan berbagai kalangan ini.

“Berbagai trik dilakukan agar masyarakat benci ke Partai Aceh. Namun kita telah siap dengan semua rintangan ini. Untuk itu, salah satu cara adalah dengan menguatkan persatuan Aceh. Sesama kombatan serta kombatan dengan masyarakat. Komunikasi dan silaturahmi adalah hal terpenting sehingga setiap persoalan yang muncul bisa diselesaikan,” kata Pang Sumatra.

Karena kesederhanaannya ini, Pang Sumatra atau Budi Satria diusung Partai Aceh sebagai calon legislatif untuk Dapil 2 Aceh Tamiang. Dapil 2 Aceh Tamiang meliputi Manyak Payed, Seruway, Bendahara, dan Banda Mulia. Budi Satria memperoleh nomor urut 5.

“Bagi saya, yang terpenting Partai Aceh menang. Karena dengan begitu, apa yang diperjuangkan semasa konflik tidak sia-sia. Walaupun saya berstatus unsur pimpinan, namun semua Caleg PA mendapat kesempatan yang sama,” kata Pang Sumatra yang dikenal dekat dengan Mualem Muzakir Manaf ini.

Pang Sumatra juga berpesan agar seluruh masyarakat di Aceh menguatkan persatuaan.

“Ini kita sudah melihat apa yang terjadi ketika kita terpecah belah. Kita harus belajar dari apa yang sudah terjadi. Karena kedepan, tantangan yang terjadi semakin dan ini memerlukan persatuan kita,” katanya.

“Yang muda-muda mari bergerak bersama-sama. Karena Aceh ini kelak akan dititip kepada kalian. Makanya perlu penguatan ideologi dan kesepahaman dalam membangun Aceh sehingga pondasi yang sudah terbangun lebih terarah,” kata Pang Sumatra di akhir pertemuan.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *